Laboratorium Alam Bernama Siberut

24 Mar

Dari Enggano di bagian Selatan hingga Simaleu di ujung Utara, suatu rangkaian pulau-pulau kecil berderet sejajar dengan pantai barat pulau Sumatra, masing-masing memiliki daya pukaunya sendiri. Yang paling mempesona para ilmuwan, konservasionis, turis, dan naturalis, cukong kayu adalah pusat rangkaian, Siberut, Sipora, dan Pagai. Dan pusat dari pusat pesona tersebut adalah pulau Siberut. Sementara pulau-pulau lain telah mengalami degradasi habitat dan budaya, Siberut relatif utuh, dan menampakkan cirinya yang paling khas: pulau muda yang terpisah dari daratan Sumatra sejak masa pleistocene awal.

Pulau Siberut, Sumatra Barat

Dengan daratan seluas 448.3 km², Siberut adalah pulau terbesar dari empat gugusan pulau yang membentuk kepulauan Mentawai. Letaknya sekitar 150 km pantai barat Sumatra Barat. Pulau ini dapat ditempuh semalam dengan menggunakan kapal penyeberangan sederhana. Walaupun tidak jauh dari pantai barat Sumatra Barat, pulau ini telah dipisahkan oleh air laut semenjak kira-kira setengah juta sampai satu juta tahun lampau.

Proses pemisahan dari daratan Sumatra memberikan—dalam bahasa konservasionis terkenal, Jeffry McNeely,—‘splendid isolation’ bagi Siberut. Situasi ini menjadikan Siberut merupakan kepulauan laut penting sejak masa pleistocene. Dari sudut pandang biogeografi, isolasi dengan pengaruh yang terbatas dari daratan utama menyebabkan flora dan fauna di pulau Siberut telah berevolusi dan berko-evolusi terpisah dari kejadian evolusi daratan utama Sunda Besar. Proses isolasi dan tiadanya kolonisasi flora dan fauna dari Sumatra mendorong terbentuknya endemisitas tinggi dan keunikan ekologi luar biasa.

Keunikan ekologi dan tingginya keanekaragaman hayati Siberut terbukti dengan bentuk faunanya yang lebih primitif dan kuno dibanding dengan Sumatra. Di pulau ini, 65% mammalia endemik 58% diantaranya endemik pada tingkat marga, 15% endemik untuk tumbuhan, dan 10% endemik untuk kelas burung. Yang paling luar biasa dari proses evolusi Siberut adalah evolusi primatanya, yang 100% endemik. Empat primata itu adalah Bilou (Hylobates klossii), Bokkoi (Macaca siberu), Simakobu (Simias concolor) yang masuk daftar salah satu 25 primata paling terancam di dunia, dan Joja (Presbytys potenziani). Diluar jenis-jenis yang terkenal itu, paling tidak 29 mamalia darat dan 4 spesies mamalia laut diketahui, 116 jenis burung, 1 buaya, 2 kura-kura, 3 penyu, 34 ular, 22 kadal, 16 kodok, dan 2 Caeciians telah tercatat. Jumlah total flora di pulau ini belum diketahui tetapi sekitar 846 spesies, 390 genus dan 131 famili dari pohon, semak dan herba, liana serta epifit dapat didokumentasikan.

Isolasi geografi tidak hanya mempengaruhi evolusi sumber daya hayati secara ekologis, tetapi juga membuat masyarakat Mentawai, yang merupakan penduduk asli Siberut, mampu melestarikan kebudayaan neolitik mereka yang khas. Antropolog Belanda Manon Osseweijer dan Gerard Persoon menulis dalam artikel di edisi khusus pulau-pulau kecil barat Sumatra di dalam jurnal Indonesia and Malay World tahun 2002 tentang keberhasilan Orang Mentawai dalam mempertahankan tradisi mereka dibandingkan orang Enggano, Nias dan Simaleu. Dikatakan keduanya, orang Mentawai, dengan cara yang rumit, dapat dikatakan berhasil ‘menghindari’ pengaruh Megalith yang berhasil menyerang Nias, kebudayaan besar semacam Hinduisme, Budhisme, gelombang missionaris, corak yang dibawah oleh agama Islam, dan bahkan penetrasi VOC dan kolonialisme Belanda.

Reimar Schefold, antropolog yang hidup lama dan mempelajari cara hidup klan Sakuddei di pantai Barat Siberut menyebutkan penduduk Siberut merupakan suku bangsa yang paling kuno, dengan adat istiadat yang pernah menjadi paling umum di kebanyakan suku bangsa di seluruh Indonesia. Para ahli antropologi menggolongkan suku ini ke dalam rumpun “proto-malay”, yang mempunyai kebudayaan neolitik dengan sedikit pengaruh dari zaman perunggu.

Kebudayaan orang Mentawai mencerminkan hubungan yang unik dengan alam. Masyarakat asli di Siberut berpandangan hutan bukan saja bermakna ekonomi untuk mendapatkan makanan dan pendapatan. Hutan berkait dengan sistem religius yang dikenal dengan kepercayaan Arat Sabulungan. Dalam kepercayaan ini setiap benda di alam memiliki roh (tai), jiwa (simagre) dan kekuatan (bajau). Sangat penting bagi masyarakat untuk menjaga keharmonisan unsur-unsur tersebut. Keharmonisan ini dipertahankan melalui upacara (lia, punen), pemberlakuan restriksi perilaku individu, dan sistem tabu (pantangan) pada saat berburu, memancing, memungut hasil hutan, dan beternak.

Dikalangan ilmuwan biologi, Siberut setara dengan pentingnya Galapagos di lepas pantai Peru bagi teori evolusi post-Darwin dan senilai dengan Madagaskar bagi ahli primata. Siberut juga sangat penting bagi laboratorium alam untuk menguji dan mengembangkan teori biogeografi pulau (island biogeography) yang dicetuskan Wilson dan MacArthur yang sekarang menjadi landasan bagi konservasi. Sifatnya yang unik dan mengandung hewan dan tumbuhan endemik membuat  pulau ini dikategorikan sebagai satu ‘hotspot area’ di kawasan Sunda Besar. Kekhasan budaya dan keanekaragaman hayati ini mendapat pengakuan secara internasional. Sejak 1981, UNESCO menetapkan Siberut sebagai sebagai cagar biosfer (Biosphere Reserve).

 

Pulau Misterius

Bagi beberapa kalangan, Siberut sangat terkenal. Peselancar dari seluruh penjuru dunia berbondong-bondong datang di awal Maret hingga Oktober untuk menikmati ombak terbaik di luar Hawaii. Iklan-iklan berisi penjualan pulau-pulau kecil yang murah marak di website untuk investor yang mengincar ratusan pulau kecil lepas pantai dan menjadikannya calypso modern. Bagi penggemar tato, orang Mentawai, dengan cara yang berlebihan, diyakini sebagai pemilik tato tertua di dunia. Dan bagi sebagian orang awam di Indonesia, Siberut tetap bertahan dengan citra sebagai homeland orang Mentawai, salah satu ‘suku terasing’ nan eksotis dengan cawat, tato, rokok, dan bunga-bunga ditubuhnya.

Di dunia maya atau di acara televisi populer, Siberut sangat ikonik dengan eksotisisme: tari-tarian tradisional, upacara-upacara ritual, atau pesta babi. Diluar itu, Siberut juga menjadi sangat terkenal dengan proyek-proyek konservasi alam semenjak tahun 1980-an. Tetapi jika kita ingin mendalami Siberut secara lebih serius, tidak banyak referensi yang tersedia. Jika kita menisik ilmuwan-ilmuwan alam maupun sosial yang menulis tentang Siberut, nama-nama itu tidak berubah dari tahun 1970-an: Schefold, Persoon, Whitten. Peneliti Indonesia tidak banyak dalam bibliografi tentang Siberut. Bidang-bidang yang sangat penting bagi ilmu pengetahuan alam tidak banyak menyebut Siberut sebagai lapangan riset.

Keterkenalan Siberut adalah sebuah paradoks. Popularitasnya sebagai pulau yang cantik, ikonik dan atraktif tidak mendorong pendalaman dan ketertarikan ilmiah terhadapnya, Bahkan sebaliknya dapat dikatakan mengabaikan potensi Siberut sebagai laboratorium ilmu pengetahuan alam yang luar biasa kaya. Meskipun sejarah ekologinya sangat terkenal, tidak banyak orang tertarik (apalagi orang Indonesia sendiri!) untuk datang tidak dengan alasan turisme dan tertarik dengan semangat tinggi menjelajahi setiap jengkal Siberut untuk ilmu pengetahuan.

Diantara pulau-pulau lain, Siberut masih menampilkan keadaan yang relatif masih utuh. Sementara pulau-pulau lain di gugusan itu telah kehilangan hutan dan dianggap kehilangan ciri kebudayaan lokalnya, Siberut masih mempertahankan hutan hujan tropisnya dan praktek-praktek budaya lokal yang hanya sedikit saja mengalami distraksi. Secara fisik, Siberut adalah pulau yang unik dalam setiap jengkal sumber dayanya. Tanahnya sangat muda muda, terbentuk dari proses sedimentasi dan didominasi oleh serpihan batu, endapan lumpur dan tanah liat berkapur dengan usia geologi yang sangat baru. Keadaan tanah yang lunak dan tidak mengandung batu-batuan, sebagai akibat erosi, wujud permukaan pulau sangat banyak menampilkan retakan dengan tebing-tebing curam dan punggung-punggung bukit terjal. Di sela-selanya bertaburan sungai kecil yang berhulu di celah sempit bukit dan mengalir menuju sungai besar.

Siberut merupakan laboratorium alam yang belum banyak dieksplorasi. Meskipun banyak naturalis dan ahli ekologi telah mengawali terungkapnya kekayaan alam Siberut—dimulai oleh Kloss dan tim risetnya pada awal abad 20—Siberut seperti raksasa yang sedang tidur. Apa yang telah dirintis Kloss dengan timnya mengoleksi spesimen mammalia, burung-burung, reptilia, amfibi, serangga dan tumbuh-tumbuhan kelak kemudian diteruskan oleh pasangan Tony dan Jane Whitten di paruh akhir 1970-an yang meneliti siamang kerdil.

Akan tetapi sumber-sumber pengetahuan ilmu geologi, biologi, ilmu tanah, dan ilmu-ilmu lain masih tersembunyi bersama bentang alam Siberut tempat berkembangnya ekosistem-ekosistem yang beragam dan hutan hujan yang kaya jenis yang belum digali. Meskipun para ahli biologi tropis telah mengklasifikasikan tipe hutan tropis asli di pulau Siberut yakni hutan hujan tropis dataran rendah (lowland tropical rain forest) dan rawa bakau (mangrove forest), isi di dalamnya belum banyak dijelajahi.

Suku Misterius

Penduduk pulau Siberut hingga sekarang sama misteriusnya seperti halnya bentang alamnya. Belum terdapat kesepakatan ilmiah dan cukup bukti empirik yang jelas mengenai asal-usul masyarakat asli di pulau Siberut. Dari manakah mereka berasal? Kapan dan bagaimana migrasi mereka? Beberapa penelitan terbaru, termasuk tim arkeologi Prancis dan UNESCO yang melakukan penelitian marathon sepanjang 4 tahun tidak memberi sebuah kesimpulan memuaskan. Mereka hanya memberi hipotesis bahwa masyarakat Mentawai di pulau ini berasal dari kelompok etnik terdekat yang lebih besar. Bahkan para peneliti itu tidak pernah dapat menemukan pemukiman pertama orang Mentawai di Siberut! Hingga sekarang, mereka masih kebingungan dengan arkeologi orang Mentawai

Perdebatan tentang siapa orang Mentawai telah mengemuka sepanjang setengah abad dengan hasil yang tidak memuaskan. Van Bukeering 60 tahun lalu mengajukan hipotesis manusia pertama di Siberut berasal dari Sumatra melalui Nias. Investigasinya memberi sugesti hubungan yang dekat secara ras antara orang Mentawai dengan suku Batak di Sumatra Utara. Hipotesis ini mematahkan kemungkinan pendapat bahwa suku ini tersebar dari pecahan kelompok-kelompok yang sekarang mendiami pulau-pulau kecil di Samudra Pasifik yang memiliki keserupaan secara budaya dengan suku Mentawai.

Bagi orang Siberut sendiri, mereka menciptakan mitos tentang asal muasalnya. Mitos ini hampir mirip dengan hikayat Sangkuriang bagi orang Sunda. Dahulu kala, seorang perempuan dari kerajaan terdekat, dibuang bersama anjingnya dan terdampar di Simatalu, bagian barat Siberut yang sangat sulit dilayari karena berhadapan dengan ombak samudra hindia yang ganas. Si perempuan ini sedang hamil. Di Simatalu, dia melahirkan anak laki-laki. Ketika besar, anak laki-laki ini disuruh ibunya untuk mencari istri. Setelah berkeliling ke seluruh pulau, si anak kemudian bertemu dengan seorang perempuan. Perempuan itu tak lain adalah ibunya sendiri. Dari keduanyalah, diyakini, orang Mentawai berasal.

Menurut teman saya, orang Mentawai yang sedang menyelesaikan Ph.D Antropologi di Leiden University, legenda itu mengaburkan asal-usul orang Mentawai. Dengan jujur, dia mengakui bahwa ada ketidakjelasan tentang asal-muasal leluhurnya sendiri. Dengan belajar antropologi, dia mengumpulkan sejarah lisan mengenai kepemilikan tanah dan genealogi (tiboi polak), dia merasakan adanya kebingungan (atau kemesteriusan??) asal muasal orang Mentawai.

Struktur sosial orang Mentawai sangat berbeda dengan kebanyakan kelompok Austronesia yang ada dari Aceh hingga Merauke. Biasanya, stereotip kita terhadap penduduk pedalaman adalah sebuah kelompok kecil yang dikepalai oleh seorang kepala suku dengan adat-adat atau aturan yang kuat dan berpusat pada kepala suku tersebut. di Mentawai, itu tidak demikian. Organisasi sosial masyarakat di Siberut merupakan warisan struktur politik egaliter dari jaman Neolithic. Secara tradisional suku Mentawai mengelompok menurut garis keturunan patrilineal yang disebut Uma. Kata Uma juga merujuk pada bentuk rumah besar yang dihuni oleh anggota kelompok tersebut. Setiap Uma terdiri dari 30-80 individu yang hidup dalam pemukiman kecil di sepanjang sungai.

Setiap Uma, lazimnya terdiri atas 5-10 keluarga monogami yang disebut sebagai Lalep. Ukuran dan jumlah populasi tiap Uma stabil dalam jangka waktu tertentu. Dalam Uma berlangsung sistem eksogami dimana perempuan tidak memiliki hak atas keturunan. Jika suami meninggal, ia kembali menjadi anggota Uma ayahnya, sementara anak-anaknya menjadi anggota Uma suami. Uma juga merupakan unit kepemilikan tanah. Implikasinya, hanya anggota Uma yang  bersangkutanlah yang memiliki hak penuh untuk memiliki dan mengolah tanah milik Uma.

Uma mewakili sebuah struktur yang egaliter tanpa ada bentuk tekanan dari hierarki politik atau pola kepemimpinan teroganisir. Secara politik, mereka tak pernah membentuk unit politik. Oleh karena itu tidak ditemukan pemimpin politik. Dalam kata lain, tidak ada kepala suku. Semua anggota Uma dewasa mempunyai hak yang sama dan setara dalam semua urusan yang berkaitan dengan Uma, baik sesama anggota dalam Uma maupun sesama Uma. Otonomi politik ini membuat sering terjadi konflik antar anggota Uma. Konflik lazimnya diakhiri dengan perpecahan Uma. Jika konflik terjadi, sebagian anggota menyingkir ke lembah-lembah lain, mendirikan Uma baru, dan memproklamirkan nama Uma-nya berdasarkan atas nama lokasi—lembah, sungai, gunung, kayu dominan—dimana ia tinggal.

Struktur sosial yang tanpa pemimpin (a-chepalus), kelihatan anomali dibandingkan dengan kelompon Austronesian lain di Indonesia yang menekankan pentingnya figur pemimpin sosial. Akan tetapi barangkali itu hanya salah satu dari kemisteriusan lain bagi orang Mentawai. Linguistik, model pakaian, dan juga mode of production orang Mentawai tidak memiliki kemiripan dengan etnis tetangganya seperti Nias, Batak, Minangkabau atau Melayu. Kenapa orang Mentawai tidak menggunakan api dalam berladang? Mengapa mereka tidak mengembangkan sereal (padi, gandum, jewawut) dan biji-bijian (jagung, kacang-kacangan) dan mengandalkan rezim umbi-umbian (keladi, pisang, ubi) dalam pertanian sebagai bahan makanan pokok mereka.

Dari perbedaan-perbedaan ini muncul banyak pertanyaan, bagaimana mereka mengembangkan budaya yang khas? Fakor apa saja yang mempengaruhinya? Bagaimana asal-usul kehidupan orang Mentawai?

Laboratorium Alam Yang Terancam

Dalam sebuah laporan jurnal Oryx bertarikh 1979, McNeely menulis tentang kemungkinan Siberut sebagai contoh keanekaragaman hayati dan manusia yang bisa hidup bersama secara harmonis, seperti surga. Hal ini diyakini dapat dilakukan karena kebudayaan orang Mentawai dipandang mencerminkan hubungan yang unik dengan alam. Salah satu tema sentral dalam kehidupan orang Mentawai (Schefold 1991; 132). Tujuan kehidupan, bagi orang Mentawai adalah hidup selaras. Hampir setiap aktifitas manusia Mentawai [membuat rumah, membikin sampan, kelahiran anak, pembelian barang berharga, dll] selalu diikuti dengan upacara. Setiap aktifitas berhubungan dengan lingkungan dan benda harus membuat roh-roh senang. Upacara adalah tindakan menyenangkan roh karena berisi tarian, mantra-mantra dan sesajian kepada benda-benda dan rohnya. Dengan begitu, pengetahuan ini, sekurang-kurangnya bagi McNeely, dapat digunakan sebagai landasan etika konservasi modern.

Wanda Ave dan Satyawan Sunito berusaha membuktikannya dengan mempelajari pengetahuan orang Mentawai terhadap tumbuhan liar dan domestikasi sebagai obat dan praktek pengobatan. Laporan kedua penulis itu diterbitkan World Wide Fund for Nature (WWF) pada tahun 1990. Laporan itu memberi impresi yang kuat tentan orang Mentawai yang memiliki hubungan sangat dekat dan harmonis dengan alam. Laporan itu menyebutkan adanya Sikerei, dukun bagi orang sakit yang mengetahui jenis pertelaan tumbuhan secara tradisional. Sebanyak 233 jenis dari 69 famili tumbuhan telah diketahui dan dimanfaatkan untuk menyembuhkan 129 jenis penyakit. Pengetahuan tumbuhan obat ini dianggap paling tinggi dan lengkap dibandingkan masyarakat asli lain di Indonesia.

Studi tentang tumbuhan obat ini, tidak banyak mendapat gema. Hampir tidak ada pengikut lain yang tertarik untuk mengkaji interaksi antara manusia Siberut dan ekologinya. Bolehlah dapat dikatakan sebagai pengecualian adalah studi saya sendiri tentang perladangan tradisional orang Mentawai. Pada awalnya, saya mungkin seoptimis McNeely tentang idealita hubungan-hubungan yang harmonis tersebut. Cara orang Mentawai berladang sangat menguntungkan bagi konservasi. Tanpa pengeringan menggunakan api dan rezim pertanian umbi-umbian menjadi faktor kenapa proses regenerasi hutan dari ladang menjadi lebih cepat. Hal ini menyebabkan hutan Siberut merupakan mosaik ladang-ladang tua yang produktif yang bercampur dengan hutan sekunder bekas ladang serta hutan primer perbukitan.

Akan tetapi perubahan-perubahan sosial, kebijakan negara, masuknya modal dan investasi menyebabkan Siberut juga sangat cepat berubah. Hal ini menyurutkan optimisme saya kelak di kemudian hari. Sebenarnya, Persoon telah mengatakan dalam artikelnya 2002 di jurnal Antropologi Indonesia, bahwa etika keselarasan orang Mentawai adalah sesuatu yang berbeda dengan cita-cita etika konservasi modern. Fungsi dari hubungan religius barangkali tidak secara otomatis berakibat pada penggunaan sumber daya alam secara berkelanjutan dari perspektif ekologi. Harmoni secara spiritual dengan alam di Siberut bisa jadi berdasarkan oleh pengetahuan yang berbeda dan gagasan yang berbeda,  dan bukannya berdasarkan konsep dasar konservasi. Pengetahuan dan ide keselarasan akan efektif dalam lingkungan mikro yang terisolir dan mengandalkan kebutuhan sendiri (subsisten dan self sufficient). Pengetahuan tradisional itu akan mengalami dinamika, bergeser dan berubah ketika menghadapi perubahan-perubahan yang lebih besar.

Perubahan besar di Siberut disponsori oleh negara. Usaha eksploitasi yang menguntungkan birokrasi terpusat di Jakarta dan pengusaha elit Indonesia telah mengincar pulau Siberut sejak tahun 1970an. Penebangan kayu skala besar dimulai tahun 1972 ketika pemerintah memberikan ijin kepada 4 perusahaan di Jakarta. Antara 1972─1993, 3 dari 4 perusahaan tersebut telah memanen total 130,650 ha hutan dengan jumlah produksi 746,155 m3 kayu. Dalam banyak kasus, penebangan kayu ini memberikan dampak buruk bagi Siberut. Kawasan hutan yang terdegradasi bertambah dan tidak diimbangi dengan usaha menghutankan kembali selain masalah ekonomi sosial.

Penebangan kayu berhenti pada tahun 1993-1999. Akan tetapi Sejak tahun 2000, dua perusahaan kayu mendapatkan konsesi penebangan di Siberut. PT Koperasi Andalas Mandiri (KAM),  mendapatkan konsesi seluas 45,650 ha dan PT Salaki Summa Sejahtera (SSS), mendapatkan jatah penebangan hutan 45,000 ha. Dalam kurun waktu 5 tahun sejak otonomi, Pemerintah Daerah Kepulauan Mentawai menggenjot pendapatan dan juga korupsi pejabat melalui penerbitan ijin pemanfaatan kayu (IPK). Disebabkan oleh masalah internal, ongkos operasional yang mahal, fluktuasi harga kayu dunia, perlawanan masyarakat serta peraturan baru dari Departemen Kehutanan, PT KAM dan ijin IPK tidak lagi mengambil kayu dari hutan Siberut.

Menghadapi rezim ekploitasi, para pembawa harapan McNeely berusaha mewujudkan dengan cara melindungi Siberut dari kerusakan ekosistem. Siberut, sejak tahun 1980-an telah diperjuangkan untuk dilindungi. Keberhasilan usaha ini naik turun, seperti dataran Siberut itu sendiri yang bergelombang. Di satu masa pulau ini terbebas dari eksploitasi kayu. Tetapi ditahun-tahun berikutnya, pulau ini habis diberikan kepada perusahaan kayu. Sekarang, separuh dari pulau Siberut ditunjuk sebagai taman nasional. Para aktivis konservasi tak lelah berhenti untuk terus berjuang untuk mengeluarkan rezim eksploitasi ini.

Orang Siberut sendiri bukanlah se-romantis dan se-ideal yang diangankan kebanyakan aktivis perkotaan. Mereka bukanlah orang Mentawai yang ditemui para etnolog sebelum kemerdekaan atau di tahun 1960-an. Mereka juga telah bersinggungan dengan rezim eksploitatif, dan kebanyakan dari mereka juga sangat eksploitatif. Mereka juga telah mengenal dunia yang terus berubah dan tidak menentu ini. Ditopang oleh perubahan sosial dan juga perubahan cara pandang terhadap alam dan lingkungan, sebagian besar mereka juga lebih menyukai menjual hutannya demi uang. Menjual tanahnya untuk dapat menikmati kehidupan kota besar. Beberapa diantaranya bahkan sangat sinis terhadap ide konservasi pulau Siberut.

Saya kira pulau Siberut tidak bisa terhindar dari kecenderungan yang terjadi di negeri ini. Lingkungan lambat laun mengalami degradasi. Hutan akan menghilang. Dan juga penduduknya menjadi jauh lebih miskin dan kehidupannya tergantung dengan harga tukar produk hutan mereka di pasaran global dan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar. Siberut tentu saja lebih riskan karena ekositem kepulauan mudanya rentan dari kerusakan. Kalau diijinkan, dengan sedikit mengeluh, saya bisa mengatkan sayang sekali harta yang terpendam di dalamnya tidak banyak terungkap oleh ilmu pengetahuan. Laboratorium alam yang terbentuk melalui sejarah geologi jutaaan tahun ini berpeluang hilang dalam beberapa puluh tahun mendatang. Di Indonesia, keunikan Siberut tidak banyak mendapat apresiasi dari ahli geologi, biologi, antropologi, arkeologi dan ilmu-ilmu yang dianggap sebagai pemegang kunci masa depan manusia.

Dengan segenap keyakinan, saya merasa akan menjadi generasi terakhir yang menjadi saksi mata bagi keunikan dan kemesteriusan pulau Siberut.

Iklan

PUMONEAN DI PULAU SIBERUT

4 Mar

Hampir semua tanah rata di dekat ceruk air kecil, seperti halnya dengan lereng-lereng landai yang berdekatan dengan sungai-sungai primer di Siberut telah menjadi ladang. Seperempat atau setengah hektar hutan yang berada di lokasi-lokasi tersebut ditugal. Pemilihan ini merupakan strategi perladangan dataran rendah yang berair dan karena itu secara alamiah diberi pupuk dari longsoran humus tanah yang datang dari lereng-lereng bukit berhutan disekitarnya. Dalam perekonomian tradisional, ladang diperlukan untuk mengumpulkan buah-buahan hutan, sumber sayuran, tumbuhan obat-obat dan bahan-bahan bangunan. Memanglah keadaan semacam ini tampak sederhana dari luar tapi merupakan proses yang rumit dalam pelaksanaannya karena membutuhkan hubungan-hubungan khusus dengan tabu dan pantangan, kepercayaan dan upacara-upacara.

Inti dari pengerjaan ladang adalah keputusan seluruh anggota keluarga besar yang disebut Uma. Sebelum hutan ditebang atau ladang dibuka, anggota Uma bermusyawarah. Mereka mengelilingi dapur yang diletakkan ditengah-tengah Uma (abut kere). Mereka berdiskusi mengenai pembuatan ladang baru. Ladang-ladang baru mereka ciptakan dengan pelbagai alasan. Paling tidak ada lima alasan utama hutan di buka: (1) Menipisnya persediaan tanaman pokok seperti keladi (gette), pisang (mago’), ubi (gobi); (2) turunnya produktivitas tanaman buah [misalnya, rambutan (bairabbit), duku (peigu), durian (doriat), nangka (peigu)] karena usia tua; (3) pako’o, pertentangan suku karena perebutan lahan dan habisnya ladang karena tulou; (4) persaingan harga diri antar Uma yang membuat tercemarnya nama baik seperti perselingkuhan, koleksi tengkorak hewan liar, perebutan perempuan untuk dijadikan istri; (5) serta warisan dan tabungan untuk generasi mendatang. Sebelumnya, usulan membuka ladang harus disepakati oleh seluruh anggota Uma dewasa.

Dari tahapan perencanaan hingga ladang selesai kelak nantinya, semua anggota Uma yang membuka ladang harus melakukan restriksi atau pantangan (kei-kei).  pantangan itu seperti misalnya melakukan hubungan seksual, membuka ladang saat istri atau babi piaraan sedang hamil. Larangan lain yang dikenakan bagi pembuka ladang adalah pantangan berburu, mengkonsumsi belut air tawar (lojo), makan sambil berjalan, mengkonsumsi udang segar (masoilok ngungu), buah berasa asam seperti jeruk (Citrus spp.) dan totonan (Etlingera elatior), makan saat kaki masih kotor atau basah, minum air mentah (mulok oinan simatak) dan pantangan rumit lain yang berkaitan dengan makanan dan tingkah laku.

Setelah tercapai kata sepakat, fase pertama dalam proses pengerjaan ladang adalah pemilihan lahan. Untuk itu mereka harus pergi ke hutan untuk mensurvai dan mengobservasi  lahan (Pasibalou tinunggulu). Oggut (beliung), tegge (parang) mereka siapkan. Lantas berangkatlah ke hutan (leleu). Lokasi calon ladang yang mereka pilih adalah lahan yang landai dan tidak curam untuk menghindari longsor. Selain itu, dimana kayu-kayu bagus yang memiliki nilai ekonomi tinggi seperti marga Dipterocarpus dan Shorea banyak, disitu mereka urungkan membuat ladang.

Lokasi-lokasi pilihan memiliki tanda-tanda tertentu. Warna tanah yang hitam kemerahan adalah indikator utama. Apabila satu benih pohon (seedling) dicabut dan akarnya panjang, disitulah tanda tanah memakmurkan. Kehadiran baggli-baggli (Costus specious), karamangga (Ficus congesta), Karesiau (Eurycoma longifolia Jack), pelekak (Etlingera punicea), sikukuet (Etlingera sp.), soggunei (Musa sp), loba’ (Calamus sp.), bebeget (Calamus manan) adalah tanda-tanda tanah yang subur. Sementara itu tanah yang tidak dibuka untuk ladang ditandai oleh tumbuhan leileigougou (Pogonartherum orinitum), posa (Baccaeura deflexa), eruteinung (Melastoma sylvaticum), goite-goite (Schismatoglottis calyptrata), ubbau (Sphaerosthepanos polycarpus), seddet (Phrynium hirtum), dan kelak-kelak (Biechnum finlaysonianum). Jenis tanaman dalam kalimat terakhir menandakan tanah kurang subur. Selain itu perhitungan arah angin, posisi matahari, sudut bukit, dan komposisi kerimbunan—yang disebut sebagai (Maiggou)—melalui perhitungan yang rumit adalah faktor penentu apakah suatu hutan akan dibuka atau tidak. Hampir semua lokasi-lokasi itu ditandai oleh sungai-sungai kecil yang membelah hutan. Sungai-sungai kecil itu digunakan sebagai pembatas kepemilikan.

Jika calon ladang sudah ditentukan, kayu-kayu yang bagus mereka tandai dengan tanda silang setinggi dada untuk menandai kepemilikan ladang pada masa yang akan datang (geneigei). Setiap satu keluarga kecil memilih 0.2-0.5 ha bagian lahan itu untuk dirinya sesuai kemampuan mengerjakan. Mereka menandai dengan tanaman besar tertentu (lazimnya durian) untuk memisahkan ladang milik anggota Uma yang lain.

Tahapan kedua dalam proses pengerjaan ladang adalah menebas tanaman lantai hutan dan belukar. Kegiatan itu diawali dengan upacara (Panaki). Upacara tersebut untuk menghormati dan meminta izin leluhur penjaga hutan agar memberkati pembukaan ladang. Secarik kain berwarna merah atau putih atau hitam, sedikit tembakau, sehela pucuk kelapa atau enau (mungu) digunakan sebagai medium upacara (Panakiat). Jumlah Panakiat tak boleh berlebih dan harus sesedikit mungkin. Ini berkaitan dengan suatu pembedaan atau pemisahan (detachment) antara kebutuhan orang biasa (Sirimanua) dengan kebutuhan leluhur. Bagi leluhur barang persembahan yang jumlahnya sedikit dari manusia berarti banyak untuk dirinya dan sebaliknya. Jika barang itu terlampau banyak, itu sama artinya penghinaan bagi leluhur.

Medium atau Panakiat diletakkan di tengah ladang dan ditaruh dalam tonggak kecil setinggi setengah meter. Masing-masing anggota pembuka ladang mengelilingi Panakiat itu. Sikebbukat Uma (pemimpin Uma) atau orang yang dituakan dalam Uma memimpin upacara.  Ia lantas membaca mantra:

Ale sateteu

Anai kai Panaki

Ita leuk sipumone

Bat rokdok*

Bakisei kap kai

Ane alaket mui

Areu ake kap besi

Areu ake kap bolo

Areu ake kap pa katai-katai

[Wahai kakek moyang kami

Inilah persembahan kami

Kita adalah pemilik alam ini

Sungai Rokdok

Jangan anggap kami sebagai orang lain

Ini semua milik-Mu

Jauhkanlah kami dari bencana

Jauhkanlah kami dari penyakit

Jauhkanlah kami dari marabahaya]

Usai pembacaan mantra untuk leluhur, para pembuka ladang istirahat sejenak. Mereka menunggu leluhur penjaga hutan dan ladang untuk menikmati Panakiat persembahan. Selama satu atau dua minggu proses pembersihan tumbuhan lantai bawah—semak, herba, rumput dan belukar—dan pohon-pohon kecil dengan parang berlangsung. Pohon-pohon besar berdameter lebih dari 10 cm dibiarkan.

Setelah lantai hutan bersih, mulailah mereka menanam tanaman pokok seperti jenis-jenis pisang (Musa spp.), keladi (Colocasia esculenta), ketela pohon (Manihot utilisima.), ubi jalar (Ipomoea batatas). Bibit tanaman untuk makanan pokok tersebut diambil dari ladang lain atau pekarangan rumah. Bibit yang ditanam bisa berupa bibit vegetatif maupun bibit generatif. Jarak tanam dalam setiap bibit sekitar 5 meter untuk pisang, 2 meter untuk ketela dan 0.5 meter untuk keladi. Kadangkala bibit tanaman pertanian (cash crop) lain yang didapatkan dari para pendatang atau tumbuh liar di hutan seperti cabai (Capsicum spp.) dan terung (Solanum tuberosum) juga turut ditanam di sela-sela tanaman pokok. Tanaman pertama yang ditanam dalam calon ladang itu berfungsi sebagai makanan utama (staple food). Pisang, keladi, sagu menghasilkan karbohidrat dan serat tinggi tumbuh cepat untuk memenuhi kebutuhan sehari–hari.

Bekas tebasan semak-belukar, pohon kecil, dan rumput dibiarkan membusuk. Api tidak memainkan peranan dalam perladangan di Pulau Siberut. Tak ada proses pembakaran. Sisa-sisa tebasan rumput dan semak belukar itu membusuk meragikan tanah. Campuran biomassa yang meragi dengan tanah dan hujan serta angin menghasilkan bubur humus yang subur yang diperlukan tanaman pokok untuk memberikan tepung kepada pemilik ladang. Zat-zat nutrisi baru dari bekas penebasan dilepaskan perlahan-lahan dari humus ke dalam tanah dan meresap ke akar-akat ketela dan pisang. Tujuh hingga sepuluh minggu, saat-saat dimana keladi dan ketela mendapatkan makanan yang berlimpah, bertunas daunnya. Pisang yang menghisap sisa-sisa tebasan belukar yang dibersihkan berdiri tegak setinggi pinggang manusia [sekitar 4-6 bulan pasca penanaman tanaman pokok.

Pada saat keladi bertunas dan pucuk-pucuk daun ubi menghijau, pohon-pohon besar yang tumbuh diladang baru ditebas. Tidak semua pohon ditebas habis. Penumbangan pohon-pohon besar tersebut didahului upacara pembukaan lahan baru (Masinenei tinungglu) di ladang. Upacara itu dimaksudkan agar semua jiwa (Simagre) yang bersemayam dalam tubuh pohon yang ditebas tidak marah dan memberi restu. Daun dan ranting tumbuhan yang ditebas diambil dan dimasukkan didalam tabung bambu yang berisi air atau buah kelapa muda. Ke dalamnya juga dimasukkan aileleppet (Graptophylum pictum) dan simakkainao (Hedychium coronarium).

Kedua jenis tumbuhan ini memiliki arti khusus dalam setiap upacara masyarakat Mentawai, tak terkecuali proses pengerjaan ladang. Setiap upacara Masinenei tinunggulu, tumbuhan ini harus disertakan. Tumbuhan ini dipercayai sebagai simbol kesuburan dan pulihnya generasi hutan karena ia cepat tumbuh. Air dari tabung bambu atau air kelapa itu dipercikkan ke tanah. Upacara itu lazimnya diikuti dengan pesta kecil di ladang. Satu atau dua ekor ayam disembelih dan dimakan dagingnya bersama-sama oleh para pembuka ladang sebagai tanda sukur.

Setelah pemercikan air upacara ke ladang, resmilah calon ladang itu menjadi ladang baru (tinunggulu). Serumpun aileleppet dan simakkainao ditanam mengawali proses Panusukat Tinunggulu. Aileleppet—yang berasal dari kata dasar maleppet (dingin)—merupakan simbol agar setiap saat kehidupan senantiasa sehat dan segar, dan simakkainao yang tumbuh lekas memiliki makna agar kehidupan terus berlangsung meski berganti waktu (to regenerating) dan semoga cepat tumbuh, dan air sebagai sumber kehidupan adalah rangkaian kesatuan kesuburan di ladang. Ada siklus kehidupan, buka ladang dan tanam. Ada tuah regenerasi tanaman dalam hutan, pemudaan komposisi tanah, dan harapan akan hasil ladang bagi keturunan.

Pada proses penebasan kayu-kayu besar, syarat yang mengiringinya tak hanya upacara Masinenei tinunggulu. Ada syarat berat lain yang harus dipenuhi. Setiap pohon yang ditebang harus diganti dengan pohon yang baru. Bibit itu harus sama jenisnya dengan pohon yang ditebang dan ditanam persis dibekas tebangan. Ini semua berkaitan dengan kepercayaan bahwa semua benda mempunyai jiwa (simagre). Setiap simagre pohon-pohon berpotensi untuk menjadi jahat dan membawa malapetaka bagi para pembuka ladang apabila tidak menghormatinya. Salah satu bentuk penghormatan itu adalah menumbuhkan lagi jiwa pohon yang sama dan dengan itu akan menghidupkan jiwa pohon kembali.

Kayu-kayu berkualitas tinggi seperti Katuka (Dipterocarpus obelli) Kaboi (Pentace triptera mast.), Karai (Shorea lamellata) disisakan untuk kebutuhan rumah dan sampan dimasa depan Kayu tersebut diberi tanda khusus dengan parang untuk menunjukkan kepemilikan. Kayu-kayu tersebut lazimnya memiliki kerapatan yang lumayan tinggi sehingga ladang yang telah ditebang lebih mirip mosaik hutan dewasa yang terganggu pohon-pohon roboh karena usia tua atau angin puyuh. Tajuk-tajuk pohon bernilai ekonomi tinggi untuk bahan sampan masih menjulang diatas tanaman pokok dan pisang.

Setelah penebasan selesai, upacara besar tanda terima kasih atas pembukaan ladang (Puliajat lia-tinunggulu) disiapkan. Babi dan ayam sebagai sumber protein utama di Siberut dikorbankan untuk pesta besar. Seluruh anggota Uma berkumpul untuk pesta bersama menolak bala dan marabahaya yang mengancam anggota Uma setelah melakukan pembukan ladang baru. Seperti lazimnya upacara-upacara besar lain [membuat sampan, mendirikan rumah, pembaptisan anak laki-laki], puncak seremoni itu diakhiri dengan berburu (Murau-rau). Sepanjang sore hari sebelum berburu, anggota Uma yang siap membidikkan panah ke hewan liar membuat racun (momae). Campuran daun raggi, cabe, dan pelbagai jenis semak—rerumputan ditumbuk halus lantas dioleskan dipucuk-pucuk anak panah.

Hari-hari dimana anggota Uma yang laki-laki berburu, istri mereka meninggalkan Uma untuk mencari udang, lokan, dan ikan ke sungai-sungai seberang. Satu dua ekor, rusa (Cervus timorensis), babi liar (Sus scrova), atau primata yang berhasil dibunuh ditingkap suara kentongan bertalu-talu sebagai bentuk kebanggan anggota Uma adalah pertanda kesuksesan pengerjaan ladang baru. Dua sampai empat hari setelah sisa-sia makanan dari daging hewan buruan dibuang melalui kotoran, seluruh kei-kei berakhir. Perburuan hewan liar ini adalah akhir upacara puliajat lia-tinunggulu sekaligus penutupan kei-kei (Pasibulu iba sibau). Anggota Uma yang membuka ladang dan berburu di perbolehkan murak-rak, berhubungan badan dengan istri-istrinya. Ladang baru tersebut dengan demikian telah resmi disebut sebagai tinunggulu.

Dimasa pembuka ladang berikhtiar menghasilkan generasi-generasi baru pasca kei-kei, tanaman-tanaman muda satu musim panenan yang mereka tanam juga memacu produksi. Ketela pohon, ubi jalar dan  keladi menghasilkan tuber atau umbi sebagai makanan pokok. Setelah kurang lebih 3-6 bulan, tanaman itu sudah bisa dipanen. Terkecuali pisang dan sagu.

Sekira dua atau tiga tahun kemudian ladang sudah berubah. Pisang setinggi dua meter. Tanah-tanah membasah. Semak belukar tumbuh acak. Kesemuanya itu tanda-tanda bibit tanaman buah siap diambil untuk ditanam. Bibit durian (Durio zibhetinus) Toktuk (Durio sp.), manggis (Garcinia indica), rambutan (Nephelium spp.), bairatdit  leleu (Lapesium sp.), duku (Lansium domesticum), nangka hutan (Artocarpus calophylum), dan jambu (Psidium guajava) mereka pilih dari induk yang bagus saat musim buah berlangsung. Seleksi bibit rambutan dan duku secara alamiah dapat ditera dari buah yang mereka makan. Buah yang berasa manis dan berbiji besar adalah pilihan pertama yang tertanam. Biji yang tak tercena oleh usus dan terbuang bersama dengan kotoran akan menjadi tumbuhan yang berkualitas. Kelak tandanya: daun hijau lebar, akar memanjang, bakal batang coklat kehitaman, tumbuh cepat dan berbuah banyak. Sepanjang waktu itu pula, bekas tebangan pohon, perca kulit kayu dan ranting telah membusuk dan melapuk. Zat-zat arang yang meragi bersama dengan rayap, jamur, dan mikrobia telah memberi bubur pupuk alami yang melimpahbagi bibit tanaman buah.

Sepanjang dua atau tiga bulan di sekitar tahun kedua dan ketiga para pembuka ladang menanam bibit. Bibit berakar panjang, tumbuh menghijau, dengan calon batang yang kekar mereka sebar secara acak, menyerupai saat mereka jatuh karena seleksi alam. Tak ada tanam secara teratur. Semua bibit tanaman buah ditanam selebar lima sampai sepuluh langkah manusia dewasa.

Pada tahun pertama setelah resmi menjadi tinunggulu ladang perlu pemeliharaan. Secara teratur, saat rerumputan meninggi dan semak mengganggu tanaman pokok dan menaungi tanaman buah mereka tebas sekali lagi dan memberi humus tanah untuk tanaman-tanaman di atas ladang. Guna memudahkan pekerjaan itu, para membuka ladang membangun pondok kecil disekitar ladang. Pondok kecil itu adalah tempat istirahat jika kemalaman di ladang atau dirasa perjalanan ke rumah terlampau jauh. Lazimnya pondok diladang itu dielngkapi dengan petak kecil untuk ayam-ayam yang dipelihara.

Pada saat tumbuhan buah-buahan yang berkayu keras sedang berjuang untuk menjulang dan tanaman pokok sudah habis untuk dikonsumsi, giliran pisang menyediakan buahnya. Pisang menggantikan keladi dan ketela sebagai bahan makanan pokok. Panen buah pisang pertama kali pantang untuk dikonsumsi sendiri. Ada sebagian yang disisakan untuk tupai (soksak) dan primata yang juga hidup berdampingan dengan manusia. Sebagian yang lain harus diberikan kepada tetangga yang tidak sedang membuka ladang. Ini adalah sejenis restriksi untuk tidak tergesa-gesa mendapatkan hasil jerih payah. Dimasa depan, jika mereka cukup bersabar menuai hasil panen sekarang, limpahan pisang dan buah dari ladang akan lebih memakmurkan keluarga mereka.

Pisang yang beranak secara vegetatif terus membiakkan diri, berpacu dengan laju tumbuhan buah. Kesemua tumbuhan itu sama-sama mendapatkan nutrisi dari ranting, daun, bekas akar kayu-kayu mudah lapuk yang ditebang saat penebasan kayu besar. Perlahan-lahan ladang yang lama akan berubah menjadi kebun buah-buahan yang bisa menyerupai hutan serta semakin lengkap dengan kehadiran pondok kecil serta kandang ayam. Saat itulah ladang baru yang dulunya disebut tinunggulu berganti nama menjadi Pumonean.

Kayu-kayu besar untuk sampan tumbuh menyelingi diantara pohon durian, langsat, jambu, rambutan, jeruk, nangka. Selain itu pohon berkualitas yang sengaja ditanam secara acak sebagai pengganti pohon yang ditebang, tumbuh menjadi generasi baru. Tahun demi tahun, ladang berisi susunan tanaman tak teratur dan campuran sisa pohon hutan berkualitas, pohon buah-buahan dan tumbuhan hutan lainnya akan berkembang menjadi hutan kembali yang lebih produktif—menghasilkan buah-buahan. Tanpa tebang habis dan penggunaan api, ladang itu menjadi menyerupai struktur hutan dengan kecepatan yang tinggi. Seiring dengan perkembangan ladang, buah-buahan dan makanan pokok mengundang avifauna, mammalia kecil, babi hutan dan sesekali primata untuk mengunjunginya. Hewan-hewan itu adalah sumber protein bagi masyarakat sehingga lengkaplah ladang itu menjadi atau menyerupai hutan kembali yang menyediakan makanan pokok, sumber buah-buahan dan sekaligus sumber protein.

* Disebutkan nama sungai yang melintasi calon ladang tersebut. Nama sungai yang disebut adalah sungai yang berada di bagian hulunya

Konser Kla Project, Ingatan dan Melankoli

26 Feb

Ball room hotel Pangeran Padang. Sabtu malam, 19 Pebruari 2011. Itu adalah salah satu malam terbaik dalam kehidupan bersama KLa Project. Setelah dua belas tahun tidak melihat langsung KLa menyanyikan lagu-lagunya. Setelah satu dekade mendengar album terakhir. Setelah satu dekade Lilo ‘dikeluarkan’ dan proyek Nu Kla yang gagal. Setelah satu dekade lagu ‘jarak dua kota’ dari album Kla ‘kedua’ Project menjelma menjadi sejarah personal. Setelah satu dekade cinta dan puing-puingnya dengan latar lagu-lagu KLa. Akhirnya, rindu yang telah membiru terhadap KLa meledak menjadi histeria.

Kata seorang teman, tiket dua ratus ribu (untuk VIP) mungkin kelewat mahal, tapi bahkan jika harga itu dua kali lipat, saya tetap akan membelinya. Menunggu satu jam pintu konser terlambat dibuka dari jadwalnya memang mengesalkan, tetapi jika itu adalah menunggu sesuatu yang anda cintai, kekesalan bisa anda modifikasi menjadi harapan.

Langit sedikit mendung sebelum konser. Udara sedikit lengas. Angin utara yang kencang membawa massa udara ke arah tenggara. Akibatnya: sepanjang akhir Januari sampai awal Maret, Padang akan kering dan terik. Saya datang ke hotel setengah sembilan ketika kelembaban udara mulai meningkat dan gerimis mungkin akan turun ditengah malam.

Setelah beberapa penonton—yang mulai mengantuk dan capek—menggerutu, pintu ball room dibuka jam sepuluh malam kurang sepuluh menit. Well, ternyata penonton konser banyak juga. Mereka kebanyakan generasi 80-an atau 90-an. Dilihat dari cara berpakaian, ngomong, dan bersikap, jelas para penonton KLa adalah orang yang mulai mapan. Usianya mungkin paruh 30-an sampai awal 40-an. Jarang saya saksikan remaja.

Saya memilih kursi no.11. Tepat di bibir panggung. Penjual tiket mengira saya penggemar KLa dari jenis yang akan memotret, merekam atau meminta tanda tangan Katon. Saya bilang, saya hanya akan jadi orang yang paling bahagia di dunia jika bisa mendengar lagu Lara Melanda, Jarak Dua Kota, atau Bantu Aku dinyanyikan secara langsung oleh KLa. Si penjual tiket bilang, ‘saya suka Dinda’. Saya cuma nyengir dan menjawab, ‘itu lagu adiknya KLa….’.

Setting konser sedikit buruk. Ruangan konser mirip rapat akbar partai politik atau menonton bioskop. Ball room itu diisi kursi yang disusun rapi rapi dan rapat. Deretan penonton memanjang ke belakang. Dua ratusan kursi pertama berharga dua ratus ribu. Barisan yang memisahkan kursi VIP ini dengan 300 kursi regular yang berharga 125 ribu adalah jatah para undangan—anak gubernur, kerabat jendral, beberapa pengusaha papan atas, kerabat promotor dll.

Panggung kecil saja dan sederhana. Peralatan musiknya juga tidak terlalu mewah. Satu set drum. Beberapa gitar akustik dan listrik. Kibor Roland dan syntetizher. Dan bas freetlet. Semua perlengkapan dan sound system didatangkan dari Jakarta. Kru yang memakai kaus dengan desain album terakhir KLa, Exellentia juga dari Jakarta.

Kebanyakan penonton datang berombongan. Di baris 3 terdepan, mungkin saya saja yang datang sendirian. Meskipun sebagian mereka tidak dapat dikatakan remaja, tapi saya merasa seperti alice in the stranger land. Anda tahu bisa tahu dari jenis hp, pakaian, sampai pilihan kosa kata orang yang duduk disekeliling saya. Mungkin mereka (sambil memicingkan mata), berkata dalam hati, ini dari golongan old fashion.

Heidy Junus yang menjadi promotor acara ini terlalu banyak bicara. Lebih dari 15 menit ia bermonolog untuk sponsor dan menjelaskan rangkaian tur KLa. Itu masih lagi ditambah lima belas menit pembagian door prize dan pembukaan acara.

********

Saya datang ke konser dengan kaki dan tangan cedera. Tiga hari sebelumnya, dalam sebuah pertandingan persahabatan sepakbola, saya ditekel orang Flores, jatuh dengan tumpuan tangan kiri. Tulang kering luka dan pergelangan tangan kiri terkilir.

Rasa sakit dari cedera itu tidak terasa lagi ketika lampu panggung mulai dinyalakan dan layar di belakang memutar video grafis berisi gambar-gambar album-album KLa, foto saat Katon, Lilo, Adi (dan Ari) masih muda dan konser-konser mereka. Video grafis itu dibuat dalam gerakan slow motion. Lagunya? Tidak ada yang lebih pas kecuali nomor instrumen dari album Ungu, Heidelberg Okt’ 92. Melodi yang pelan bergelombang dari komposisi yang ditulis Adi pada waktu awal musim dingin di Jerman 1992 begitu sempurna untuk mengantar emosi penggemar KLa tulen.

Setelah video berakhir dan lampu mati, tiba-tiba panggung langsung dikejutkan oleh hentakan drum dan keybord Adi untuk membuka konser dengan lagu berirama cepat dari album Exellentia, Revolusi Disco.

Menyaksikan Katon, Lilo dan Adi bergerak, mata tiba-tiba berkaca-kaca. Saya tidak dapat menahan tumpahan air di kelopaknya. Saya tidak bisa menjelaskannya. Ini perasaan seperti ketika anda bertemu kembali dengan pacar pertama anda di bandara (tentu anda sekarang sudah punya kehidupan masing-masing), minum kopi sejenak dan mengenang betapa muda anda sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Tangisan anda menghanyut bersama kenangan seperti aliran sungai yang menemukan alurnya.

Lagu Revolusi Disko dipilih secara tepat untuk mengejutkan penonton dan menghangatkan suasana setelah terpotong moodnya oleh jadwal yang molor. Meskipun banyak penonton yang belum familiar dengan lagu ini, tempo yang cepat dan nada-nada tinggi membuat penonton mulai menggeser-geser pantatnya dan menggoyangkan bahu.

Nomor Revolusi Disko disusul dengan lagu terbaik (menurut saya) dari album terbaru mereka yakni Hilang Separuh Arti. Lagu ini juga temponya cepat dengan lirik melankolik ala KLa. Saya sesekali berdiri dan ikut menyanyi. Suara saya jelas tertelan sound system yang kuat, tapi inilah bagian terbaik dari menonton konser secara langsung. Anda menautkan hidup anda dalam sebuah lagu secara langsung dari suara penyanyinya.

Gemuruh tepuk tangan dan siulan mulai membahana ketika intro lagu Menjemput Impian dari album ‘KLasik’ mengalir lembut dari jari Adi. Hampir seisi ball room itu mulai menyanyi, terutama ketika menuju bagian refrain ‘Kau dan aku, jadi satu…menjemput impian” Konser dilanjutkan dengan versi akustik dari lagu Pasir Putih dari album Ketiga. Penonton diajak berdiri dan menyanyi bersama. Mungkin karena kurang akrab di telinga, hanya ada saya, dan beberapa orang di barisan ke 2 yang ikut menyanyi.

Setelah menenggak air mineral dan menyapa penonton sejenak, Katon mengenalkan proses pembuatan album Exellentia dan proses rekonsiliasi KLa setelah berkonflik dan vakum sejak tahun 2002 dengan ditandai ‘dikeluarkannya’ Lilo dari KLa Project. Katon juga mengenalkan lagu baru yang menjadi hits mereka dalam album baru Cinta (Bukan) Hanya Kata. Lagu ini paling sering diputar di radio-radio di Padang. Dalam tangga lagu beberapa radio, lagu ini menempati urutan pertama. Tidak buruk untuk band yang memulai karirnya di akhir 80-an. Lagu ini kemudian disusul lagu dari album yang sama, Mimpimu Nyata.

Untuk meredakan tempo dan mengambil napas sejenak, permainan solo dari Adi menjadi jeda. Ini juga sebentuk apresiasi untuk Adi yang merupakan perantau Minangkabau dan berasal dari Padang. Setelah tepuk tangan yang bergemuruh ketika denting terakhir tuts keyboard ditekan, tepuk tangan kembali sangat keras ketika penonton mengenali intro lagu yang sangat cocok bagi pasangan yang mengenang pertikaian dalam sebuah relasi percintaan (Semoga). Seisi ruangan konser berubah menjadi koor bersama ketika refrain lagu menyentuh kalimat…’adakah waktu mendewasakan kita, kuharap masih ada hati bicara’.

Setelah koor untuk lagu Semoga penonton berakhir, permainan solo dari penabuh drum pemusik tamu (additional musician) menjadi sajian tambahan yang menyemangati konser. Selama lebih dari 7 menit, drummer menabuhnya dengan tempo dan irama bervariasi.

Permainan drum yang menghentak sangat cocok dengan pilihan aransemen lagu berikutnya. Katon mengganti kostum dan rehat sejenak di belakang panggung. Riff gitar Lilo mengaum dan irama bas yang garang menjadi intro yang menarik bagi lagu Romansa yang diaransemen ulang. Mungkin ini adalah aransemen ulang terbaik untuk konser malam itu. Lagu Romansa yang dalam versi albumnya terasa manis, pelan dan melankolik diubah menjadi sangar ala musik cadas.

Suara Lilo yang serak cocok ketika masuk ke dalam nada sedang dan melengking ketika memasuki nada tinggi direfrain. Permainan melodi gitar Lilo pun kerasa benar cita rock-nya. Mengingatkan ketika dia banyak bermain dengan nada-nada pendek yang temponya cepat di album solonya. Variasi suara dari Katon ke Lilo juga memberi kesegaran bagi penonton.

Setelah applaus panjang untuk Lilo, Katon kembali dengan kostum baru. Paduan kaus hitam dengan rompi perak. Sambil mengenalkan pemusik tambahan, Katon memberikan pengantar tentang dua nomor yang akan dibawakan kemudian. Pesan yang disampaikan dalam lagu tersebut bersifat universal, bagaimana seseorang harus yakin terhadap pilihan hidupnya. Ini mengingatkan ketika ‘pesan-pesan’ yang dia sampaikan di album Klakustik #1 dan Klakustik #2. Lagu baru yang muncul kemudian adalah Hidup adalah Pilihan dan Rahasia Semesta.

Hampir semua lagu baru yang ditampilkan sambutannya tidak semeriah tepuk tangan untuk hits lama. Reaksi penonton ‘agak dingin’ jika lagu-lagu baru muncul. Untuk menaikkan lagi antusiasme penonton, suara basist tamu yang melantunkan melodi pembuka lagu hits Tak Bisa Kelain Hati segera dikenali penonton. Penonton bergerak pelan dan mengalur mengikuti irama lagu ini.  Seluruh ruangan menggema ketika Katon menyodorkan mik kearah penonton tepat di bagian refrain. Tak bisa kelain hati yang ditampilkan mengikuti versi albumnya sehingga terkesan lembut dan megah di bagian akhirnya.

Segera setelahnya Tak Bisa Kelain Hati, konser memulai siklus klimaksnya. Ini diawali dengan suara saxsophone dari pemusik tamu yang meliuk-liuk memberi intro lagu yang menjadi hits dari album Ungu, Terpurukku Disini. Tanpa dikomando, penontong langsung mengenali lagu ini.  Siulan meriah dan tepuk tangan di atas kepala langsung menyambutnya. Penonton satu-satu berdiri dan bergoyang.

Penonton di bagian belakang merangseng ke depan. Di barisan depan semua menari dan menyanyi bersama bersama. Katon berhasil mengajak seluruh penonton untuk berdiri dengan berlari dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Bagi saya, lagu ini adalah titik masuk keterlibatan sejarah saya dengan lagu-lagu KLa.

Terpurukku disini dirilis pada Nopember 1993, tepat ketika Video Musik Indonesia bisa saya saksikan dari TVRI dari rumah.  Itu hari pertama keluarga saya punya televisi hitam-putih National Panasonic bekas yang ayah saya beli dari tetangga. Siaran yang bisa diterima hanyalah siaran TVRI. Saya ingat benar dengan detailnya: tepat ketika pukul 21.35 WIB, Dian Nitami, si pembawa acara menjelaskan tentang KLa Project dan video-video musiknya.

Saat itu, Saya tak tahu bahwa video klip itu didominasi warna Ungu, sesuai dengan tema lagu dan albumnya. Yang saya lihat adalah pisau yang membelah buah, tetesan darah, gambar layar putih dan siluet gelap (ungu dalam versi warnanya), lilin, dan Lilo yang menggunakan baju seperti hakim Inggris di masa Victoria. Yang saya tahu, kehidupan telah mempertautkan saya dengan band ini.

Lagu Terpurukku Disini memulai histeria yang lebih keras. Sepertinya, KLa telah merancang dengan brilian urutan lagu dan tempo konser ini. Sebelum Terpurukku disini diakhiri, melodi akustik dari lagu Gerimis dari album KLakustik#1, semakin membuat ball room menjadi ‘panas’. Fotografer dan wartawan berhamburan ke muka untuk memotret—baik KLa dan penontonnya. Penonton di belakang berhamburan ke muka untuk memotret, memberi bunga, menyanyi dan bergoyang.

Suasana menjadi semakin meriah karena KLa menyusun lagu medley yang berirama cepat untuk mengajak orang berdendang dan beroyang. Lagu Baru, Terkenang, Gerimis, Laguku—lagu-lagu yang enak dinyanyikan bagian refrainnya secara bersama—dinyanyikan secara bergantian dan memaksa semua orang untuk histeris, mengangkat tangan, dan bernyanyi bersama. Ruangan konser bergemuruh oleh koor 500 pengunjung…… Saya sendiri lupa kalau pergelangan tangan saya bengkak dan terluka.

Di banyak konser KLa, lagu Yogya biasanya menjadi puncak dari klimaks konser. Tapi dengan suatu cara yang lembut menawan, konser ini mengubah kebiasaan yang nyaris menjadi wajib itu. Sepertinya Katon sengaja tidak mengaduk emosi penonton dengan tidak mengajak menyanyi bersama. Hentakan drum yang sangat khas itu mengalir lembut pelan dan memaksa setiap penonton untuk terpaku mendengarkan betapa lagu ini telah menjadi sejenis lagu yang mampu mengatasi ruang dan waktu.

Meskipun Yogya bukanlah puncaknya, bagi saya lagu ini adalah segalanya. Yogya—lagu flamboyan dan elegan tentang sebuah kota dan kisah cinta yang melankolik di dalamnya—membuat anda yang pernah tinggal di kota itu, punya kisah cinta di dalamnya, akan kehilangan kehidupan nyata yang anda jalani sekarang ini.

Sebetapapun kehidupan yang keras telah membentuk karakter anda, Anda akan meleleh pelan seperti lilin pada api. Sekering apapun hati anda karena kehidupan telah memberi anda kegagalan dan kekalahan, anda tidak tidak bisa menghindar dari nostalgia. Anda akan dibawa dalam romantisme masa muda dan seluruh ingatan yang berpusat pada semesta kecil yang anda impikan dan pernah anda dapatkan. Anda akan merasa, lagu itu memang anugerah semesta yang diciptakan khusus bagi kehidupan anda. Anda tidak bisa lari dari lagu itu di manapun anda berada. Irama dalam lagu Yogya adalah detak urat nadi anda sendiri, melodi di dalamnya adalah puisi kehidupan anda sendiri. Lagu itu adalah sejarah anda sendiri.

Saya menyanyi sepanjang bait lagu itu jatuh pada waktunya. Dengan suara keras. Dengan hati yang penuh. Dengan aliran darah yang deras. Setiap bait dan melodinya, membuat saya melintasi waktu. Kadang saya merasa menjadi remaja usia 12 tahun yang mendengar lagu pertama ini dari siaran acara Sapa Pamiarsa radio Carolina Surabaya lewat Panasonic dual band kecil punya ayah saya. Kadang saya menjadi remaja usia 16 tahun ketika mengambil keputusan, apapun yang terjadi, suatu saat nanti saya harus kuliah ke Yogyakarta.  Kadang saya menjadi remaja usia 19 tahun yang jatuh cinta pertama kali dengan salah satu gadisnya dan merasa itu adalah masa terbaik dalam kehidupan. Kadang saya menjadi anak muda awal 20-an yang meninggalkan kota itu dengan banyak impian, puing-puing dan luka-luka. Kadang, saya menjadi ‘lelaki kecil’ menapak 30-an dengan remah-remah harapan dan cinta yang tersisa untuk sebuah kota……

*******

Puncak konser itu akhirnya jatuh pada lagu Tentang Kita. Berbeda dengan albumnya, lagu ini diaransemen versi akustik. Selama intro refrain (ingat dengan kembali-kembali..lah kini pada nada E Mayor dan A mayor itu) Katon dengan cukup bagus, tenang dan jernih memberi pengantar betapa berartinya lagu itu bagi KLa Project. Diciptakan tahun 1988, lagu itu mengawali debut remaja 20-an tahun yang bermusik sebagai dorongan hati—Adi semester 2 fakultas Hukum dan Lilo masuk jurusan teknik mesin Ari sudah senior di Fakultas Psikologi semuanya di UI, sementara Katon sudah kerja jadi pramugara di Garuda.

Lagi ini juga menandai usia ke 23 KLa Project. Versi originalnya anda bisa dapatkan di You Tube. Lagu ini dikenalkan lewat acara Selecta Pop (atau Telerama?) di TVRI pada tahun 1989. Di klip itu anda bisa lihat betapa ingusannya mereka. Tentang Kita menjadi single pertama KLa yang masuk chart radio dan membuat mereka berketetapan hati untuk meninggalkan kuliah dan pekerjaan untuk berkarir di industri musik Indonesia.

Pengantar dari Katon membuat penonton bisa merasakan puncak gairah konser itu. Seluruh penonton tumpah ruah di bagian depan. Yang dari belakang menghambur ke depan. Suasana menjadi seperti dalam konser dangdut atau berada di tribun ekonomi stadion sepakbola. Semua orang berhimpitan dang mengangkat tangan. ‘Kembali-kembali..lah kini’, dan penontonpun langsung menyambutnya dengan ‘s’gala asa berseri’…..

Sepanjang lagu itu, penonton berteriak, bertepuk tangan, bergoyang dan menyanyi bersama. Ini sedikit mengejutkan juga. Bagaimana band yang ‘tua’ seperti ini masih bisa mengajak penonton hsteria dengan lagu yang diciptakan 23 tahun yang lalu dengan penonton yang pada usianya sekarang akan bicara pelan, santun dan jarang mengeluarkan keringat itu? Dan bagaimana lagu ini menjadi pemuncak?

Seluruh penonton bernyanyi bersama. Lagu ini menjadi jauh lebih panjang—bahkan dari versi akustiknya. Setiap refrain diulang, penonton segera melakukan koor. Terlihat dengan jelas KLa dan pemusik tamu harus berimprovisasi untuk memperpanjang lagu ini.

Setelah sekitar 8-9 menit lagu ini diakhiri dengan bait terakhir ‘tetap setia untuk s’lama-lamanya’ dan suara symbal yang ditabuh keras dan lampu yang padam tiba-tiba.

Ketika dalam siluet terlihat bayangan Katon, Lilo dan Adi menghilang dari panggung, sontak para penonton yang dahaga atas KLa belum terpuaskan berteriak ‘lagi…lagi…lagi….’ Saya mungkin termasuk yang pertama dan paling keras berteriak. Suasana hening sejenak. Panggung lengang. Namun segera penonton dibelakang juga berteriak sambil berdiri ‘tambah..tambah..tambah……’. Lagi-lagi…….

Penonton tidak beranjak dan tetap terpaku dengan teriakan ‘lagi…..lagi…’ Katon kembali ke panggung dan bicara dengan penonton. Melihat antusiasme penonton, mereka akan memberi bonus dua lagu. Katon juga minta pengertian kepada penonton bahwa rangkaian tur 7 kota ini cukup melelahkan. Semalam mereka tidur pukul 4 pagi di Palembang dan sampai harus di Bandara jam 8 pagi. Mereka harus cek sound jam 3 sore di Padang dan main jam 10. Besok mereka mau istirahat dan kembali ke keluarga di Jakarta.

Lalu Katon mengajak Adi dan Lilo serta pemusik tamu naik kembali ke panggung. Penonton memberi tepuk tangan panjang sambil berdiri. Lalu mengalirlah lagu Meski Tlah Jauh dari album kelima. Lagu ini diaransemen mirip versi albumnya dengan Lilo sebagai vokalis utama.

Lilo membuka lagu ini dengan sebuah cerita yang sepertinya dimaksudkan untuk menyindir industri musik pop kontemporer. Di Manado, ujarnya, dia dikira Charli ST 12. Lilo melakukan gerakan satir dengan mengusap air mata, terisak dan  berkata, ‘kita belum terkenal’. Penonton tertawa dan bertepuk tangan dengan meriah. Melodi gitar Lilo membuka lagu Meski Tlah Jauh dengan manis. Lagu kemudian melantun pelan dan lembut dengan suara Lilo yang serak-serak basah. Penonton tampaknya terlena dengan alunan melodi yang tenang, datar tapi membius dari lagu ini. Sampai nada terakhir, penonton baru sadar dan bertepuk tangan.

Lagu itu langsung disusul dengan sebuah lagu dari album pertama yang bercerita tentang remaja yang jatuh cinta pada anak dara usia belasan. Ya, anda pasti tahu, itu adalah Anak Dara yang diciptakan Katon pada umur 16 tahun. Melodi yang sangat nikmat dari intro lagu ini dimainkan dengan rileks oleh Adi. Saat Katon melantunkan lagu itu, pemusik tamu pelan-pelan beranjak. Ini merupakan isyarat yang cukup cerdas untuk ditangkap oleh penonton sebagai transisi menuju akhir konser ini. Lilo ikut bernyanyi dan di panggung hanya tersisa Katon, Lilo dan Adi.

Tepat pada bagian bait ‘Manis sealun nada…….’ dan akhirnya ‘Riangku…..’ diulang-ulang untuk menaikkan iramanya, lampu panggung segera menyala terang. Adi meninggalkan kibornya, bergabung dengan Katon dan Lilo yang berangkulan. Dengan cerdik Katon memainkan refrain pada bagian’ Riangku…’ secara solo dengan nada menurun, tepat pada saat mereka bertiga bergandengan tangan dan memberi salam perpisahan terakhir kepada penonton. Mereka tidak perlu berkata-kata. Sebuah finishing yang manis dan sempurna..

Yang tersisa kemudian adalah campuran dari aplaus, siulan dan teriakan ‘KLa Project..KLa Project’ yang berulang-ulang dan nyaris seperti choir dalam sebuah gereja yang megah. Tepuk tangan terus membahana sampai penonton menyadari bahwa lampu ball room menyala dengan terang dan menerangi wajah penonton yang berseri-seri dan bahagia.

********

Berat hati beranjak dari hotel Pangeran. Sebagian diri saya masih ingin mencari sisa-sisa nostalgia dan melankolia dari lagu-lagu KLa. Diluar, gerimis turun pelan seakan membawa pesan bahwa isyarat dalam hati dan gulana belum tersampaikan. Sepanjang jalan pulang saya terus menyanyi. Diatas motor, saya membayangkan saya sendiri yang menciptakan lagu ‘Waktu Tersisa….’. Menyusuri sepanjang sisi kota, laju diatas roda. Hanyut dibuai oleh melankoli, terlintas diantaranya kenangan, ingatan dan juga impian-impian yang belum terpenuhi.

Besok, matahari akan bersalin dan memberikan kehidupan yang akan lain. ‘Lelaki Kecil’ harus terus menantang hidup. Tapi setidaknya satu malam terbaik dalam kehidupan sudah didapatkan. Setidaknya saya lupa sejenak (dan tidak merasa) pergelangan tangan kiri saya membengkak dan membiru pelan-pelan karena rindu saya terhadap KLa ( dan juga didalamnya ingatan terhadap sejarah saya sendiri) telah tertunaikan.

Bencana, Negara dan Marjinalisasi Mentawai

10 Feb

Sudah lebih dari 3 bulan, penanganan korban bencana di Kepulauan Mentawai belum memuaskan. Indikatornya antara lain adalah diperpanjangnya waktu tanggap darurat. Penanganan pengungsi yang tidak maksimal. Banyak pengungsi kesulitan mendapat layanan air bersih. Mereka juga menghadapi banyak penyakit sementara pengobatan kurang layak (Kompas 4/2/2011). Selain itu distribusi bantuan kurang lancar. Banyak bantuan yang berupa barang konsumsi—mi instan, air mineral, susu kaleng, biskuit— ‘membusuk’ di gudang-gudang penyimpanan (Puailiggoubat 1-14/2/2011).

Program-pemulihan dini yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencapai angka 13,9 miliar tidak menyentuh persoalan korban bencana (Kompas 4/2/2011).Anggaran sebanyak itu harus dihabiskan dan kegiatan didalamnya diselesaikan pada bulan Januari-Pebruari. Usulan untuk kegiatan pemulihan dini itu berpeluang besar dilakukan dengan sembrono dan menghambur-hamburkan uang. Program-program yang mulai di lansir diantaranya adalah pembangunan warung kelontong di lokasi pengungsian; penyediaan freezer dan cool box; dan pembukaan lahan baru untuk perkebunan.

Ide-ide program pemulihan itu jelas sangat ngaco dan berupa khayalan yang buruk orang-orang dari birokrasi dan juga BNPB. Bagaimana tidak? Minimnya kegiatan produktif di pengungsian sangat jelas membuat daya beli warga sangat rendah. Sebagian pengungsi sangat tergantung dari uluran lembaga donor. Ketika mereka diungsikan dan tempat pengungsian ditentukan pemerintah, lokasinya sangat jauh dari tempat mereka berkebun atau melaut. Jaminan subsistensi mereka sangat menipis. Untuk apa mendirikan warung jika tidak ada pembeli?

Freezer dan cool box jelas membutuhkan pasokan arus listrik. Jangankan di lokasi pengungsian, di Tua Pejat—ibu kota kabupaten tempat Bupati berkantor dan tinggal dan tidak terlanda tsunami—pasokan listrik sangat tidak memadai. Jangankan untuk menghidupkan genset agar tersedia arus listrik, minyak tanah untuk lampu teplok aja sangat langka di pengungsian. Bahkan beberapa warga hidup dalam gelap gulita di  kantung-kantung pengungsi. Untuk apa cool box dan freezer? Bolehlah alasan ini:  menyimpan batu es untuk mengawetkan hasil tangkapan laut. Tetapi batu es dapat dari mana? Dari langit seperti yang terjadi dengan hujan es di Australia? Kalaupun itu diberikan pengungsi, pastilah itu ada manfaatnya. sekurang-kurangnya untuk menyimpan pakaian bekas, bak penampungan air hujan atau menyimpan keladi dari kebun.

Masalah-masalah ini muncul karena pemerintah daerah tidak memiliki kapasitas dalam menangani bencana. Bencana Mentawai dikategorikan sebagai ‘bencana daerah’. Kriteria penentuannya tidak jelas. Untuk mengatasinya, pemerintah daerah-lah yang harus ngurus. Padahal mereka jelas tidak punya pengalaman manajemen bencana. Sangat jelas pemda Mentawai dan pemprov Sumbar membutuhkan asistensi dari Jakarta. Namun, pemerintah pusat mudah berlindung dibalik alibi ‘bencana daerah’ untuk lari dari tanggung jawabnya. Akhirnya, pemda dan pemerintah pusat saling lempar tanggung jawab. Koordinasi sangat-sangat buruk. Kondisi pengungsi yang sudah menjadi korban tsunami menjadi lebih parah karena menjadi korban ketidakmampuan pemerintah.

Solusi Pemerintah

Pemerintah telah mengeluarkan dua solusi untuk korban bencana. Solusi pertama, bersifat jangka pendek, adalah pendirian hunian sementara (huntara). Pengungsi akan diberi bantuan rumah ukuran 4 x 6 meter. Menurut siaran Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB), 1.116 unit huntara direncanakan bagi pengungsi. Angka ini merambat naik menjadi 1.450 unit setelah melihat kondisi mutakhir. Setelah 3 bulan menangani bencana, baik pemerintah daerah, BNPB, BDPB tetap kebingungan menentukan berapa jumlah huntara bagi para pengungsi. jumlah yang dikeluarkan oleh BNPB, Pemprov Sumatra Barat dan Pemda Mentawai berlain-lainan.

OK-lah, Ide huntara sangat mulia. PMI—lebih tepatnya Jusuf Kalla—yang mempopulerkan wacana ini bahkan menginginkan huntara bisa selesai sebelum Natal dan tahun baru 2011. Kalla sangat mengerti arti penting momentum natal dan tahun baru bagi orang Mentawai. Dengan merayakan natal dan tahun baru di huntara, orang Mentawai diharapkan lebih ceria dan sedikit-demi sedikit melupakan trauma akibat gempa dan tsunami.

Tapi hingga kini, hampir dua bulan dari natal, setengah dari jumlah huntara belum berdiri. Konon masalah utamanya adalah pasokan kayu bagi huntara. Tentu saja alasan ini mengada-ada karena di Mentawai banyak kayu bagus. Masalahnya, kayu itu ada di hutan produksi dan sudah menjadi ‘milik’ HPH PT Minas Pagai Lumer (MPL). Pengambilan kayu untuk huntara terkendala ijin dari Menteri Kehutanan. Inilah paradoks-nya, orang Mentawai harus meminta ijin kepada orang pejabat tinggi—yang duduk di kursi terbuat dari jati atau meranti yang diambil dari hutan-hutan terbaik—untuk menebang kayunya sendiri di tanah  nenek moyangnya sendiri.

Polemik tentang pengambilan kayu ini sempat memanaskan hubungan antara Menteri Kehutanan, PMI dan pemerintah daerah (Kompas 1/12/2010, Media Indonesia 4/12/2010). Inilah keajaiban negeri ini. PT MPL telah mendapat keuntungan yang sangat melimpah dari eksploitasi hutan-hutan alam di Mentawai sejak tahun 1972. Bahkan mereka mendapat ijin perpanjangan dan perluasan lagi. Ketika bencana terjadi, mereka bahkan dapat mengambil kesempatan dengan menetapkan harga kayu jika dibutuhkan untuk pembangunan huntara. Setelah dihitung-hitung, biaya untuk mengambil kayu dari HPH, angkanya bisa mencapai 3,7-4 juta/m3. Inilah yang menyebabkan BNPB dan pemerintah daerah agak tidak semangat karena angaran untuk rekonstruksi jelas akan sangat mahal.

Solusi kedua dan bersifat permanen adalah dengan memindahkan pemukim (baik korban bencana maupun tidak) yang tinggal di daerah pantai ke tempat yang aman dari tsunami. Pejabat nasional dan daerah tampaknya akur atas solusi ini. Re-lokasi dianggap sebagai solusi yang cespleng. Dengan legitimasi kaidah-kaidah scientific ilmu kegempaan, pemerintah memiliki justifikasi kuat untuk memaksa orang Mentawai untuk pindah tempat dari pemukiman yang mereka tempati sekarang ini.

Dengan rasa hormat atas itikad baik dan kerja keras pemerintah, solusi dari pemeringah tidak memahami aspek sejarah sosial di Mentawai. Penanganan korban bencana mengabaikan sistem tenurial dan hubungan orang Mentawai dengan mata pencaharian. Solusi yang ditawarkan juga memposisikan orang Mentawai sebagai korban tidak berdaya.

Negara dan Mentawai

Alasan yang dikatakan pejabat resmi untuk relokasi adalah memudahkan pelayanan dan penanganan pemerintah. Hal ini memberikan bukti bertahannya imajinasi pemerintah yang salah terhadap orang Mentawai.

Orang Mentawai masih distereotipkan sukar dikontrol, hidup terpencar dan tidak mudah diatur. Untuk memberikan pelayanan, bukannya pemerintah yang harus beradaptasi dengan orang Mentawai, tetapi masyarakat-lah yang harus dipindah dan menuruti pemerintah. Dengan bencana, para pengungsi masih ada yang menghabiskan waktunya tinggal di kebun atau bukit-bukit yang dekat dengan ladang-ladangnya. Ini untuk menhindari bahaya kelaparan—sesuatu yang tidak pernah terjadi dalam sejarah orang Mentawai.

Orang Mentawai bukanlah masyarakat maritim. Mereka mengandalkan daratan sebagai mata pencaharian. Kebudayaan Mentawai adalah kebudayaan sungai. Orang Mentawai tinggal di lembah-lembah yang merupakan daerah aliran sungai. Lembah-lembah ini tidak hanya mendeterminasi faktor produksi tetapi juga dalam interaksi sosial dan pembentukan identitas yang sangat penting (Reeves 1999: 16). Variasi regional dalam hal bahasa, upacara-upacara, hukum-hukum pernikahan dan pewarisan juga sangat ditentukan dari interaksi yang dibentuk di lembah-lembah sungai.

Orang Mentawai bermukim di lembah subur di sisi kanan dan kiri sungai. Tetapi mereka tidak bermukim di bagian muara sungai itu. Pemukiman ini menjorok ke dalam dan jauh dari pantai. Dulunya sebelum masa kolonial, salah satu alasan adalah untuk menghindari serangan dari kelompok lain yang ingin mengayau atau pemerasan dari para pedagang yang mengeksploitasi. namun alasan yang jauh lebih penting adalah urusan mencari nafkah (mode of production).

Di dataran landai di dekat sungai inilah mereka bisa bertanam makanan pokok (keladi, pisang, sagu) dan berkebun.Pemukiman dan cara produksi ini sangat dipengaruhi faktor ekologi. Sebagian besar topografi kepulauan Mentawai berupa bukit-bukit dengan permukaan yang tidak rata. Bukit-bukit itu curam dan ditutupi hutan yang lebat. Kawasan bukit-bukit yang luas ini sukar dibudidayakan. LIPI bahkan secara ekstrim melaporkan hanya 28% lahan di pulau terbesar di Mentawai, Siberut, yang cocok untuk kawasan budidaya. Dengan teknologi dan sumber tenaga kerja yang terbatas, Orang Mentawai kesulitan untuk mentransformasikan hutan untuk kawasan budidaya secara massif.

Lahan produktif yang mudah diusahakan sangat terbatas di dekat sungai yang jenis tanahnya berupa onaja (rawa berair) yang cocok dengan jenis tanaman pertanian berupa umbi-umbian (keladi, sagu, dan pisang). Orang Mentawai tidak pernah memproduksi tanaman sereal dan biji-bijian—beras, gandum, millet, kacang-kacangan, gandum, kedelai. Rejim pertanian umbi-umbian sangat cocok dengan ekologi Kepulauan Mentawai karena hanya membutuhkan sedikit tenaga kerja dengan hasil melimpah, mampu bersaing dengan gulma dan tidak mudah terserang hama.

Di masa lalu, orang Mentawai bermukim terpencar-pencar di sepanjang sungai. Mereka hidup mengelompok ke dalam organisasi sosial yang disebut Uma. Setiap Uma terdiri dari 5-10 keluarga (30-60 individu). Uma mewakili sebuah struktur sosial egaliter tanpa hierarki politik atau kepemimpinan teroganisir. Pengambilan keputusan politik di tingkat Uma dan antar Uma berlangsung dengan setara dan kolektif.

Masing-masing Uma mencukupi kebutuhan hidup secara mandiri. Kepemilikan atas tanah atas nama Uma adalah sumber daya penting dalam kehidupan sosial. Kepemilikan tanah menjadi penting karena ini merupakan salah satu sumber daya politik yang utama—dan mungkin satu-satunya. Tidak hanya itu kepemilikan terhadap tanah juga bersifat simbolik karena menentukan identitas masing-masing Uma dan juga individunya (Reeves 1999: 14). Mereka cenderung memilih tinggal di tanah milik sendiri atau milik Uma lain yang masih memiliki hubungan kerabat. Jika mereka tinggal di tanah milik Uma lain, posisi politik orang Mentawai akan lebih lemah.

Oleh karena itu, sebelum bermukim, orang Mentawai sangat membutuhkan jaminan keamanan status mereka dalam penggunaan tanah dari sibakkat laggai (pemilik tanah). Tanpa persetujuan sibakkat laggai, orang Mentawai tidak dapat mendirikan pemukiman atau tempat tinggal. Kadang, untuk memastikan jaminan keamanan tanah, persetujuan lisan tidak cukup. Mereka harus membeli (masisaki) tanah dari sibakkat laggai. Atau sekurang-kurangnya membayar pulajuk, ganti rugi atas pemanfaat sumber daya (tanah, hutan) dari sibakkat laggai yang besarnya ditentukan oleh negosiasi bersama.

Di masa orde baru, pemukiman dan cara produksi orang Mentawai tersebut dianggap terbelakang. Orang Mentawai dikategorikan negara sebagai suku terasing. Gaya hidup mereka dianggap tidak maju. Cara mereka bercocok tanam dianggap merusak hutan. Sagu, keladi, dan apa yang mereka hasilkan dan makan dipandang sebagai makanan orang tidak berbudaya. Pokoknya, apa yang dilakukan orang Mentawai dianggap menyalahi pembangunan yang tengah diusung negara.

Negara meluncurkan program Pembinaan Kesejahteraan Masyarakat Terasing (PKMT) untuk mengatasi keterasingan ini. Program utama PKMT adalah mendirikan pemukiman yang dikontrol negara. Pemukiman itu dilengkapi dengan masjid, gereja, balai desa dan semua hal yang diharapkan bisa membawa orang Mentawai menjadi ‘Indonesia seutuhnya’. Peserta program ini mendapat rumah 4x 6 dengan kualitas buruk dan janji tanah 2 hektar. Sejak tahun 1972 hingga berakhir 1997, program ini membuat 63 pemukiman yang belakangan diadopsi menjadi dusun atau desa (Persoon 1995:7).

Mereka yang hidup disepanjang sungai digiring ke daerah pesisir pantai. Inilah inkonsistensi negara terhadap Mentawai. Orang Mentawai seperti bola sepak. Atas nama pembangunan, mereka disepak ke pinggir pantai. Namun, seperti yang akan kita lihat nanti, atas nama bencana, mereka di lempar ke pedalaman dan kawasan hutan.

Sejalan dengan PKMT, pemerintah menetapkan kepulauan Mentawai sebagai kawasan hutan. Pendakuan ini memulai eksklusi dan marjinalisasi orang-orang Mentawai dari tanah dan sumber daya mereka. Mereka ditaklukan dengan pencitraan negatif seperti peladang tidak efisien atau perusak hutan. Secara implisit terdapat koherensi penentuan Pulau Siberut sebagai milik negara dengan kategori masyarakatnya sebagai masyarakat terasing dan situasi sosialnya sebagai ‘terbelakang’.

Ide PMKT saling komplementer dengan kebijakan ‘teritorialisasi’ negara. Hutan orang Mentawai dibagi-bagi menjadi kawasan konservasi, hutan produksi atau hutan lindung. Untuk melakukan kontrol itu, masyarakat dikeluarkan dari kawasan hutan. Departemen Kehutanan dapat legitimasi untuk mengambil alih hutan, Departemen Sosial dapat legitimasi melancarkan proyek peng’adaban’.

Di banyak tempat, proses pengalihan tanah dari Uma pemilik tanah kepada peserta program PKMT tidak jelas. Seperti yang saya teliti di Puro, pulau Siberut, mereka tidak pernah mendapat sertifikat tanah dari negara untuk tanah yang 2 ha itu. Sementara itu keturunan sibakkat laggai merasa pemerintah tidak pernah memberi penjelasan skema pengalihan tanah mereka untuk PKMT. Bahkan mereka tidak mendapat ganti rugi (recognitie) untuk tanah yang diserahkan itu. Sampai departemen sosial dibubarkan dan sekarang didirakan lagi, mereka tidak pernah serius menangani masalah ini.

Akibatnya, konflik tanah terjadi dan dalam kasus baru-baru ini di pulau Siberut, terdapat pengusiran warga PKMT oleh Uma pemilik tanah (Puailiggoubat, 1-15/11/ 2008). Program PKMT yang tidak terurus menyebabkan orang Mentawai berkonflik sesama mereka demi tanah 2 ha, sementara tanah dan hutan mereka yang luas diambil alih sepihak oleh negara dan diserahkan kepada perusahaan kayu.

Huntara dan Relokasi: Marjinalisasi Lagi?

Penentuan lokasi pengungsian dan huntara ditetapkan pemerintah (Kompas 4/2/2011). Lokasi ini jauh dari pemukiman asal dan ladang-ladang orang Mentawai. Di sini, pengungsi sangat tergantung dari bantuan dari luar. Untuk makanan sehari-hari, pengungsi harus pandai-pandai menghemat bantuan beras dari pemerintah dan LSM kemanusiaan. Di lokasi ini air tidak cukup tersedia sehingga beberapa pekerja kemanusiaan mengeluh pekerjaan utama mereka adalah mengantar air ke pengungsian. Tidak ada pekerjaan. Tidak ada mata pencaharian. Tidak ada uang. Yang ada adalah kegelisahan.

Mertua teman saya yang mengungsi di Malakopak mengatakan huntara tidak layak disebut sebagai hunian. Meskipun dimedia disebutkan akan terbuat dari kayu, hampir semua huntara terbuat dari tripleks tipis yang gampang terbang jika badai datang. Kayu penyangganya didatangkan dari Padang dan kualitasnya sangat buruk. Beberapa huntara dikabarkan tidak berlantai. Lokasinya berimpitan seperti pemukiman kumuh di Jakarta atau di Bombay.

Sebagian bahan huntara dikerjakan di Padang tanpa keterlibatan korban. Mereka hanya menunggu di pengungsian tanpa kejelasan dan kegiatan produktif. Maka tidak heran jika korban bencana tidak antusias dan sinis terhadap ide ini.

Ide huntara bertolak belakang dengan corak kemandirian orang Mentawai. Secara sosial, mereka memiliki tradisi otonomi. Mereka terbiasa membangun rumah dan mencukupi kebutuhan sehari-hari tanpa bantuan pihak luar. Mereka tidak terbiasa hidup berdesak-desakan. Mereka biasa ‘berkeliaran’ di ladang-ladang. Secara teknis, mereka sangat hebat dalam konstruksi rumah karena seluruh aspek budaya material mereka mengandalkan bahan dari vegetasi (Forrestier dkk. 2005).

Pemerintah melihat korban bencana sebagai korban tanpa daya. Korban tidak dilibatkan dalam perencanaan dan pelaksanaan huntara pada posisi yang setara. Untuk menentukan sebuah pemukiman yang bagus, sumber air adalah kriteria yang paling penting bagi orang Mentawai. Setelah itu lahan untuk menanam makanan pokok agar tidak malaje (lapar).

Semangat dan tradisi egaliter orang Mentawai tidak dijadikan modal sosial. Penanganan bencana yang melibatkan birokrasi menciptakan hirarki kekuasaan baru. Mekanisme penanganan bentuk ini menciptakan ‘elit-elit’ baru yang melayani birokrasi. Kepala dusun, ketua pemuda, kepala desa dan beberapa orang yang dekat dengan pejabat dan birokrasi  birokrasi dapat menemukan ruang manuver untuk mencapai keuntungan dari saluran dengan birokrasi. Loyalitas dan legitimasi mereka sangat ditentukan oleh pihak luar dari pada masyarakat sendiri. Hal ini semakin semakin menenggelamkan ratusan korban bencana dalam trauma.

Dengan wacana relokasi, posisi orang Mentawai kembali sangat rentan terhadap eksklusi dari sumber daya yang telah mereka miliki. Seperti yang diwacanakan, setiap keluarga yang dipindahkan akan mendapat lahan 3 ha dan diberikan rumah sementara. Lahan-lahan itu rencananya akan dufungsikan sebagai perumahan dan juga perladangan. Paradigma relokasi tidak ada bedanya dengan program PKMT. Mereka akan dipindahkan, dibuatkan rumah 4×6 di lokasi baru.

Lokasi baru ini berada di tanah milik Uma lain. Seringkali karena luasnya, pemilik tanah ini tidak hanya satu Uma. Pemerintah membuat kesalahan fatal dengan pengabaian terhadap kepemilikan tanah ini. Di Kinimbuk, desa Bulasat, pemilik tanah sudah protes pemerintah karena penggunaan tanah mereka untuk huntara. Di lokasi yang dikenal KM 45-46 ini, pemilik tanah keberatan dengan konversi kebun keladi, durian, cengkeh dan ladang mereka untuk pemukiman. Sementara pengungsi sudah terlanjur dipindahkan ke sana. Situasi ini akan sangat menyebabkan konflik horisontal, dan pemerintah belum (atau tidak mau) menyelesaiakan masalah ini.

Daerah relokaso ini jauh dari kelapa, ladang nilam, coklat atau keladi. Hal ini akan semakin menyulitkan pemulihan ekonomi pasca bencana. Korban bencana berpotensi semakin rentan terkena bencana sosial akibat menipisnya ketahanan pangan.

Sebagian areal relokasi berada di kawasan hutan produksi yang dikuasai perusahaan kayu. Ini adalah paradoks besar karena lokasi yang ditentukan untuk relokasi dulunya dianggap pemerintah tidak dapat dijangkau pelayanan negara dan lebih baik diserahkan kepada pengusaha kayu. Status hutan produksi—secara de yure dibawah kontrol HPH—tidak memberikan jaminan kepemilikan atas tanah.

Kejelasan status tanah sangat penting bagi orang Mentawai. Tanpa jaminan kepemilikan, orang Mentawai tidak akan nyaman dan aman bermukim. Mereka mengalami hantaman ganda. Jika terdapat konflik dengan Uma pemilik tanah, mereka jelas kalah secara politik dan hirarki kepemilikan (hierarchy of belonging). Mereka rentan diusir. Jika konflik dengan HPH, mereka sangat rentan untuk disalahkan sebagai perusak hutan.

Bagi orang Mentawai sepanjang 6 dekade ini mereka selalu dipaksa menuruti kemauan pemerintah. Mereka tidak menolak karena membutuhkan pembangunan dan mendapat pelayanan negara yang layak. Mereka tidak menolak dipindahkan. Bahkan dalam banyak kasus yang saya temukan di Siberut, mereka menyukai pemukiman yang dibentuk oleh pemerintah. Mereka secara aktif terus berusaha mendapat keuntungan dari saluran dengan negara. Sangat jelas, orang Mentawai mengingikan sekolah untuk anak-anak mereka, pelayanan kesehatan yang layak, dan jaminan atas kehidupan yang dilindungi negara.

Selain itu, hegemoni negara melalui pemberian stigma sebagai daerah tertinggal membuat orang Mentawai belajar memahami diri mereka sendiri dari sudut pandang yang negatif dan karenanya harus tunduk terhadap ide-ide dari pemerintah (Eindhoven 2007: 101). Dengan mengikuti program-program pemerintah, orang Mentawai dapat melepaskan diri dari stereotip ‘terasing’ atau ‘terbelakang’

Apa yang harus dilakukan?

Pada dasarnya, penanganan bencana adalah masalah penerapan kekuasaan. Aspek penting penanganan bencana (kayu untuk huntara, tanah untuk relokasi) masih dikuasai negara. Sementara, pemerintah terbelit dalam jaring kekuasaan yang mereka tenun sendiri. Polemik ijin pemanfaatan kayu untuk huntara menunjukkan bahwa birokrasi negara tidak peka terhadap korban bencana.

Satu hal yang membuat penanganan bencana berbelit-belit, seakan rumit, dan tanpa ujung penyelesaian adalah bagaimana paradigma terhadap orang Mentawai. Orang Mentawai telah hidup di Kepulauan itu selama sekurang-kurangnya—dalam cerita lisan—11 generasi. Mereka telah mengenali jenis batuan, nama sungai, lokasi pohon-pohonan seperti mengenali tahi lalatnya sendiri. Mereka jelas sangat mengenali lokasi yang cocok bagi pemukiman bebas tsunami. Mereka tahu dimana pemukiman yang ada sumber air.

Mereka juga tahu bagaimana cara bernegosiasi dengan Uma pemilik tanah. Campur tangan pemerintah hanya akan menimbulkan masalah baru karena, mereka—dengan pengalaman PKMT—merasa tidak ada jaminan pengakuan kepemilikan tanah dari sibakkat laggai. Jika sesama orang Mentawai yang meminta atau meminjam tanah untuk pemukiman, mereka akan menentukan mekanisme sistem pertukaran sosial yang layak bagi pemilik tanah.

Para pengungsi juga sangat paham membuat rumah yang bagus dari kayu. Masalahnya, kayu yang akan mereka gunakan tidak ada. Pemerintah lebih banyak sibuk mengirim triplek dan kayu kelas tiga (nangka, durian) dari padang untuk konstruksi rumah.  Dengan cara ini, para korban tidak diakui sebagai masyarakat yang berdaya.

Mereka semakin tidak berdaya karena akses terhadap sumber daya dibatasi kebijakan negara. Untuk apa mengambil kayu dan triplek dari padang jika di hutan-hutan mereka terdapat jutaan kubik kayu?

Sekarang kita, berbelok sedikit dengan menengok apa yang telah dilakukan oleh Jaringan Lumbung Derma, koalisi masyarakat sipil di Sumatra Barat yang menangani masalah gempa. Di Mentawai, jaringan ini dipelopori Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM).  Inisiatif mereka meletakkan orang Mentawai sebagai subjek otonom dan mandiri.

Mereka punya dua pilot project di dusun Tumalei dan Mabulai Buggei. Idenya sederhana dan tepat sasaran. Solusi untuk korban bukanlah huntara, tetapi hunian permanen. Mereka membantu 46 keluarga di Tumalei dan 42 di Mabulau Buggei untuk mendirikan pemukiman baru pasca bencana.

YCMM menyerahkan keputusan penentuan lokasi pemukiman sepenuhnya kepada warga dusun. Negosiasi penggunaan tanah juga diselesaikan secara internal oleh warga dusun. Mereka hanya menyediakan gergaji mesin (chainsaw), bahan bakar, dan alat konstruksi yang tidak bisa diproduksi orang Mentawai (paku, seng, palu, ketam). YCMM—meskipun pernah dikenal dan sering dipersepsikan sebagai lembaga konservasi—menyarankan untuk menebangi kayu di ladang-ladang para warga dusun, meskipun secara de yure masuk kawasan hutan produksi. Mereka tidak mengirim bahan-bahan lokal dan tidak membayar tenaga kerja para pengungsi.

Solusi jenis ini adalah paling tepat dan murah bagi orang Mentawai. Korban akan terlibat dalam pemulihan kehidupan keluarganya secara mandiri. Mereka merasa bebas karena tidak banyak diintervensi pihak luar dalam membuat rumah. Mereka juga tidak tertekan di pengungsian karena memiliki kesibukan dan aktivitas fisik. Lokasi pemukiman mereka juga masih dekat dengan ladang dan kebun-kebun keladi. Para perempuan menyediakan makanan pokok dari kebun-kebun mereka sendiri.

Prinsip dasar pengangan bencana di Mentawai tidak rumit. Berikan hak orang Mentawai untuk memiliki kekuasaan atas kehidupan mereka sendiri. Biarkan mereka memutuskan lokasi yang bebas dari bencana secara mandiri. Biarkan mereka mencari pemukiman yang mudah mendapatkan akses terhadap mata pencaharian. Berikan wewenang mereka untuk mendapatkan lahan yang akan memberi jaminan hak dan kepemilikan.

Kekuasaan atas penentuan kehidupan mereka sendiri harus di jamin negara. Termasuk dalam mengklaim tanah yang akan mereka gunakan dan kayu yang akan mereka tebangi. Tentu saja, ini membuka peluang konflik dengan pemegang HPH. Namun saat konflik inilah keberpihakan negara sangat dibutuhkan orang Mentawai. Sungguh tidak adil jika korban bencana yang secara de facto dilarang menebang kayu untuk rumah di tanahnya sendiri, sementara negara mengijinkan pemilik HPH untuk mengeskploitasi.

Penanganan bencana seharusnya tidak terlalu rumit karena orang Mentawai sangat otonom dan egaliter. Syaratnya sederhana, negara memiliki kemauan politik untuk mendelegasikan kekuasaan secara penuh kepada rakyat. Negara hanya perlu membelikan gergaji mesin, bahan bakar dan alat pertukangan dan mendorong masyarakat mengambil keputusan soal pembangunan pemukiman dan rumah.

Solusi yang memandirikan orang Mentawai tidak mahal. Beaya ini jauh lebih murah dari proyek rekonstruksi dan rehabilitasi (2011-2013) yang mencapai 1,1 trilyun rupiah. Ingat, Kepulauan Mentawai adalah kabupaten yang penyerapan anggarannya sangat rendah se Sumatra—mungkin juga se Indonesia. Tahun 2008, 66,17% APBD bersisa dari 424,22 miliar, yang berulang di tahun 2009 sebesar 46,23% dari 281,28.

Jika proses rekonstruksi dan rehabilitasi dijalankan, sangat mungkin terjadi pemubaziran anggaran. Pemda Mentawai memiliki kapasitas terbatas untuk menyerap anggaran sebesar itu. Dengan kepemimpinan yang lemah, masyarakat sipil yang terfragmentasi dan daya tawar politik rakyat yang rendah, anggaran-anggaran itu akan sangat mudah untuk dikorupsi.  Sementara proses birokrasi akan berbelit-belit, sangat mungkin uang itu hanya akan beredar dari meja ke meja pejabat pelaksana dan hanya sedikit yang turun ke pengungsi.

Kasus ini bukannya tanpa preseden. Di Sumatra Barat dan di Mentawai, dana gempa tahun 2007 masih banyak tersendat di rekening negara. Sebagian besar diantaranya sudah disunat oleh pejabat di setiap tingkat birokrasi. Sementara pengungsi yang terlunta-lunta dipengungsian hanya bisa berharap dan kemudian dikecewakan.

Sangat jelas, bahwa negara salah memahami orang Mentawai. Penanganan bencana yang seharusnya murah meriah menjadi mahal, ruwet, bertele-tele dan akan membiakkan korupsi. Kebijakan negara yang berangkat dari pemahaman keliru selain hanya menghamburkan uang, juga akan membuka peluang marjinalisasi terhadap orang Mentawai. Dulunya atas nama pembangunan, kini atas nama bencana.

Iklim Global, Sejarah Lokal: Perubahan Ekologi Siberut (Bagian IV)

6 Feb

Krisis Iklim dan Narasi Global

Bagi pemerhati lingkungan dan perubahan iklim, apa yang terjadi di Siberut akan gampang dikatakan sebagai manifestasi perubahan iklim global. Sejak satu dekade terakhir, wacana tentang perubahan iklim tumbuh pesat dan mendominasi isu lingkungan di seluruh dunia. Hal ini dipicu oleh dugaan meningkatnya suhu global. Panasnya temperatur bumi ini, pada gilirannya  akan merosotkan keanekaragaman hayati dan hancurnya lingkungan. Pertumbuhan industri, konversi hutan tropis, dan konsumsi dan gaya hidup masyarakat urban diduga menjadi penyebab utama narasi krisis lingkungan. Untuk menarik perhatian publik dan meningkatkan kesadaran atas situasi terkait, laporan-laporan mengenai krisi lingkungan ditulis dengan nada dramatis. Daftar-daftar spesies yang punah, hampir punah, atau terancam punah diterbitkan. Foto kawasan-kawasan asli yang hilang dilampirkan di halaman-halaman media massa. Pengalaman dengan punahnya keanekaragaman hayati di dunia belahan utara memunculkan kekhawatiran akan hilangnya sumber-sumber genetik asli yang ada di daerah tropis. Dunia pun dirasuki kecemasan yang ditimbulkan oleh perubahan iklim.

Krisis iklim ini dipandang sebagai kesalahan manusia. Pembangunan yang eksesif, industri negara maju, sistem ekonomi dunia, dan watak manusia modern dipandang sebagai penyebab-penyebab utama perubahan iklim. Pembangunan dalam skala besar, pertambangan, pembukaan jalan, dan perkebunan, dianggap sebagai skema-skema pembangunan yang memusnahkan keanekaragaman hayati, banjir bandang, dan curah hujan yang tinggi. Laporan media mengenai pemanasan global, kebakaran hutan, deforestasi, dan punahnya spesies menarik perhatian pembaca internasional. Orang-orang yang tinggal di Brussel, London, atau Michigan seperti merasakan secara langsung apa yang terjadi dengan es di Kilimanjaro atau Aconcagua, sementara orang-orang di Amazonia, Kongo, Sarawak, atau Sumatera dicekoki dengan gambar-gambar es yang meleleh di kutub utara atau beruang salju yang kesepian.

Narasi-narasi di majalah yang peduli lingkungan seperti National Geographic, Time, Nature, misalnya, dipenuhi dengan dampak-dampak mematikan dari pemanasan global. Musnahnya katak dari pedalaman Costarica, munculnya wabah Ebola dan virus misterius dari Congo dan Afrika, punahnya beberapa jenis terumbu karang, serta resistennya hama-hama pertanian di dunia ketiga adalah contoh yang sukar dibantah. Narasi-narasi bencana alam yang terjadi di dunia (banjir bandang Pakistan, kekeringan di India Selatan, musim badai di Burma dan Bangladesh serta Filipina, gelombang hawa panas di Eropa) seperti udara segar, kita jumpai setiap hari. Seluruh energi dunia (melalui Millenium Development Goal, misalnya) dikerahkan untuk mengurangi dampak perubahan iklim ini dan mencari cara melakukan mitigasi terhadapnya.

Ciri-ciri perubahan iklim global, kemudian menjadi kampanye serius bagi sebuah perjuangan yang dikaitkan dengan kemanusiaan. Al-Gore muncul sebagai pahlawan dan menerima hadiah Nobel Perdamaian. Ia menyebutnya kampanye perubahan iklim dalam film Unconvenienced Truth sebagai perang untuk masa depan. Negara-negara maju dituntut untuk mengurangi emisi buangan karbon, dan negara yang tidak memiliki pemimpin kuat dan berkarakter seperti Indonesia harus rela dipaksa untuk memperluas kawasan konservasi hutan tropisnya dengan kompensasi yang sangat sedikit. Protokol Tokyo, forum perubahan iklim di Bali, kesepakatan Kopenhagen, semua ditujukan untuk mencegah, permukaan air laut yang terus naik, kenaikan temperatur global yang melajuk ke angka 0,3 Celcius tiap 2 tahun, menghindarkan hujan turun cukup deras di waktu yang pendek dan para petani tidak mengalami kekeringan.

Saya tidak pernah mengukur kadar kesinisan saya terhadap narasi pemanasan global itu. Saya percaya, ekologi dunia berubah, dan akan tetap seperti itu. Saya tidak percaya ada ekuilibrium dan homeostasis yang ideal, yang muncul ketika intervensi manusia absen terhadap alam. Itu adalah hal yang mustahil dilakukan dalam sejarah manusia modern. Saya bisa mengerti kerisauan Al-Gore atau pidato Wanga Mutahari yang menanam milyaran pohon sebagai pesan perdamaian dari Kenya. Anda juga akan sulit menampik data-data statistik klimatologi: suhu air laut meningkat, cuaca begitu ekstrem, frekuensi badai meningkat dalam 40 tahun terakhir, jumlah sungai yang kehilangan mata air, daftar spesies yang punah di era modern, dan sederetan angka yang akan menyiksa ahli ekologi yang berdedikasi. Masalahnya adalah, banyak fakta ekologi tersebut dengan mudah disusun untuk digunakan sebagai basis ideologi konservasi—atau katakanlah kecemasan global—di mana seakan-akan ada hubungan yang begitu alamiah antara apa yang terjadi di pedalaman Siberut atau Papua dengan kecemasan orang-orang terdidik di kota yang mempelajari ekologi atau iklim dunia.

Saya—dan beberapa teman di Siberut—juga sering risau apa yang sedang terjadi di Siberut.  Pasang besar Oktober, berubahnya musim aggau, rura dan simarou sering menjadi hantu pemikiran bahwa di Siberut telah terjadi dampak pemanasan global. Apalagi apa yang terjadi Oktober lalu bukanlah kasus khusus Siberut. Di televisi, koran, dan majalah, tiap edisi memuat  banjir rob, pasang besar Narasi itu akan cocok dengan keluhan-keluhan yang selama ini sering dijumpai di Siberut: hasil tangkapan ikan kian menyusut, hujan yang tidak bisa diduga, musim kering yang jauh lebih lama; seringnya badai datang dan perubahan-perubahan ekologi lainnya. Beberapa gejala global kadang nampak nyata di pulau Siberut. Enam pulau-pulau kecil lepas pantai timur Siberut telah lenyap ditelan lautan dan hanya menyisakan onggokan pasir yang terus dikeruk. Garis pantai Maileppet semakin melebar ke arah daratan. Karang-karang lepas pantai memutih dan ada pertanda bahwa ini terkena pencucian (bleaching). Hari tanpa hujan dirasakan semakin banyak dan curah hujan menyebabkan erosi tanah semakin masif.

Tapi, belajar dari Siberut, setiap hal butuh untuk diragukan. Apalagi keyakinan yang diciptakan oleh ekolog atau aktivis lingkungan yang sering melakukan tautologi, spekulasi dan asumsi. Beberapa spesies mati dan para ahli biologi satwa akan mudah mengatakan terjadi krisis lingkungan. Satu bukit longsor dan para aktivis akan mengatakan ini karena pemerintah salah menerapkan skema pembangunan. Dan satu angin badai, banyak orang mengatakan itu adalah dampak dari perubahan iklim global. Narasi krisis biologi dan pemanasan global yang ditiup kencang lebih sebagai pesan moral dari pada fakta-fakta yang meyakinkan.

Orang-orang di Siberut sendiri jarang menyebut-nyebut krisis iklim global. Apakah ini karena pengetahuan mereka terbatas? Atau kurangnya informasi? Saya pikir, mungkin. Tapi, mereka menonton televisi, membaca tabloid dan mendengar para aktivis lingkungan menyebut-nyebut soal ini. Yang lebih tepat barangkali, mereka tidak mendramatisir situasi. Mereka juga tidak merangkai narasi idealistik tentang perubahan global. Mereka telah berpengalaman dengan perubahan-perubahan ekologi secara langsung. Beberapa orang menyebut pemanasan global dengan kelakar atau asak baga—sebuah sikap bermaksud menyindir atau mencemooh dengan cara melebih-lebihkan. Sikap ini tentu berbeda dengan orang seperti saya, apalagi mereka yang berjarak dengan perubahan ekologi sehari-hari, tinggal nyaman di rumahnya di kota besar dan mendapatkan uang untuk mengkampanyekan kerusakan lingkungan. Kepedulian terhadap perubahan ekologi ini juga tentu saja berbeda dengan orang-orang yang bersimpati dari jarak yang agak jauh. Semacam reaksi orang sakit dan reaksi orang-orang yang bersimpati atas rasa sakit itu.

Namun, tetap saja pikiran saya terbelah. Gejala-gejala perubahan iklim yang terjadi di Siberut mungkin berkaitan dengan apa yang terjadi di seluruh dunia. Pasang awal Oktober itu juga terjadi di seluruh Indonesia, selatan Filipina dan negara kepulauan yang dilewati garis ekuator. Barangkali pasang besar Siberut adalah manifestasi pemanasan global dan perubahan iklim dalam skala mondial. Bukankah hukum ekologi terpenting menyebutkan, bahwa faktor abiotik dan biotik saling berhubungan dan menciptakan kondisi ekologisnya sendiri?

Iklim Global, Sejarah Lokal: Perubahan Ekologi Siberut (Bagian III)

25 Jan

Musim Sebagai Pedoman, Perubahan Sebagai Kenyataan

Ciri-ciri musim rura, aggau dan juga simarou bukan hanya diketahui dengan baik tetapi juga bekerja hampir secara otomatis dalam pengalaman orang-orang Siberut. Tanpa harus diumumkan, anak-anak kecil (apalagi orang tua!) akan mengetahui berapa lama lagi musim rura akan datang, nelayan akan menghitung kapan badai musim aggau akan berakhir dan kapan ibu-ibu dan anak gadisnya turun ke laut untuk menangkap simarou.

Akan tetapi musim-musim yang dikenal di Mentawai tidak muncul secara rutin dengan waktu tempuh yang tetap. Misalkan begini: kita mengenal di sebagian besar Indonesia, hujan akan turun bulan-bulan September dan berakhir Maret-April. Setelahnya adalah musim kemarau. Di Siberut, datang dan perginya musim tidak bisa diukur dari kalender tahunan. Kita tidak bisa memastikan bahwa musim rura akan jatuh tepat bulan Januari dan berakhir bulan Mei. Sementara musim simarou akan dimulai pada bulan Oktober dan menghilang di bulan Desember.  Musim-musim itu, bagi Mentawai dikenali sebagai pedoman tetapi datang dan perginya terus senantiasa berubah. Perubahan ini tidak banyak dikeluhkan karena sepanjang waktu, mereka sepertinya tidak pernah meramalkan datang dan perginya musim-musim seperti petugas Badan Metereologi dan Geofisika mengumumkan ramalan cuacanya.

Sepanjang 7 tahun terakhir di Siberut, saya mencatat bahwa musim-musim yang dikenal di Mentawai itu tidak berulang tahun secara rutin. Musim rura misalnya tidak selalu datang tepat waktu. Pada tahun 2003, musim itu jatuh pada bulan Januari dan begitu pula tahun berikutnya. Tahun 2005, musim rura dimulai awal Pebruari, dan tahun-tahun berikutnya bahkan diawali pada bulan Nopember dan Oktober. Pada tahun 2008, musim buah sebagai penanda puncak musim rura baru berlangsung pada bulan April-Mei. Dan tahun 2009, pohon abbangan baru berbunga pada awal Maret.

Pada saat musim rura tiba, tidak semua pohon buah-buahan berbunga semuanya. Dalam kemunculannya enam musim terakhir, musim buah raya—dimana semua pohon buah-buahan—berbunga dan bisa dipanen semua, hanya dijumpai oleh penduduk Siberut dua kali yakni tahun 2004 dan tahun 2008. Kadang di satu tempat, durian berbunga dengan lebatnya, namun  kemudian bunga itu berguguran, dan tidak menjadi bakal buah. Lain waktu, pohon durian tiba-tiba cepat berbunga dengan jumlah yang sedikit dan lantas berbuah dengan lebatnya.  Menurut orang Siberut sendiri, musim buah raya hanya berlangsung sekitar 3-4 tahun sekali. Yang dikenali oleh orang Siberut di musim rura, tidak semua tempat di Siberut—dan Kepulauan Mentawai—buah-buahan itu berbunga dan berproduksi. Musim panen buah-buahan juga tidak serentak terjadi di Siberut.

Begitu pula dengan musim aggau. Meskipun kisaran waktunya datang pada musim Juni-Oktober, musim ini kadang muncul dalam interval waktu yang lama dan kadang muncul singkat saja. Di tahun 2004, musim ini berlangsung 4 bulan penuh, dari Juli-Nopember. Sementara di musim tahun 2006, badai berlangsung hanya dua bulan, dari Juni-Agustus. Pada saat saya mengikuti berburu kepiting di Pei-pei, sebuah kampung di bagian Selatan Siberut, musim ini berlangsung lebih cepat, antara Juli-Agustus. Curah hujan yang menyertai musim aggau juga berfluktuatif. Kadang-kadang musim aggau diikuti oleh curah hujan yang tinggi—seperti yang terjadi pada musim aggau 2004 dan 2007. Selebihnya, hari kering berlangsung lebih lama sehingga musim ini diikuti oleh menyusutnya sungai-sungai utama dan menyebabkan kekeringan, seperti yang terjadi pada tahun 2005, 2006, 2008.

Ibu-ibu yang hendak melaut di musim simarou juga pasti tahu, antara satu musim dan musim yang lain hasil tangkapan ikan, jeluk air, hangat dan dinginnya air laut, dan kibasan angin pantai tidak pernah selalu sama. Mamak Potan, seorang ibu yang sangat rajin yang mana saya pernah tinggal bersamanya kurang lebih setengah tahun menuturkan kepada saya, bahwa musim simarou dari dulu berlangsung tak tentu. Kadang muncul menjelang natal (Desember), kadang muncul setelah hari raya (Januari). Kadang-kadang simarou pun muncul pada saat Paskah berlangsung (bulan April).

Nampaknya, bagi orang Siberut sendiri, musim hanyalah sebagai sebuah pedoman. Sementara waktu, intensitas, dan gejalanya yang terus berubah adalah sebuah keniscayaan. Perubahan-perubahan musim dianggap sebagai hal yang biasa bagi orang Mentawai. Pengalaman saya yang pendek dengan Siberut menyatakan bahwa musim-musim di Mentawai memang berjalan fluktuatif. Tapi pengalaman saya bukanlah kasus khusus, hampir semua orang Siberut mengatakan bahwa musim dari jaman nenek-moyang juga senantiasa begini: tetap sekaligus berubah. Tetap dalam pengertian bahwa tidak ada musim yang dikenal selain rura, aggau dan simarou. Tetapi musim itu selalu berubah intensitasnya, datang dan perginya, akibat dan penyebabnya.

Ini bukan berarti mereka tidak memiliki persepsi terhadap perubahan itu sendiri. Kadang-kadang muncul dalam melankoli dan nostalgia, beberapa orang mengatakan bahwa kondisi sekarang lebih sukar diprediksi. Disini muncul sejarah yang berbeda di setiap orang. Ada orang yang melihat kondisi ‘jaman dulu’ lebih bagus. Tetapi ketika kita kejar ‘jaman dulu’ itu kapan, mereka kesulitan menempatkan referensi waktu secara eksak. ‘di waktu dulu,’ begitu mereka mengatakan, ‘ikan-ikan mudah dipancing, banjir tidak meluap, atau rotan mudah dijumpai’. Tentu saja, kondisi zaman dulu dikontraskan dengan kekinian. Sementara yang lain akan menyebut situasi saat ini lebih baik. Adanya jalan yang dirabat, mudahnya komunikasi dan perbaikan sarana transportasi menjadi penanda yang memberikan nilai kondisi kehidupan yang lebih baik. Ada yang menyatakan bahwa perubahan itu memang ‘sejak dulu’ ada di Siberut dan tidak bisa menempatkannya sebagai sebuah perbandingan mana yang lebih baik atau yang lebih buruk.

Iklim Global, Sejarah Lokal: Perubahan Ekologi Siberut (Bagian II)

17 Jan

Iklim dan Musim Siberut

Sebagai orang yang pernah ikut kuliah Ekologi di Fakultas—meskipun bukan sebagai mahasiswa yang baik dan sering bolos—penjelasan spekulatif teman-teman saya di Siberut merangsang keingintahuan terhadap perubahan-perubahan ini. Seperti halnya semua orang Siberut, saya hanya bisa menerka-nerka perubahan-perubahan air pasang dan apa hubungannya dengan cerita-cerita dan peristiwa-peristiwa yang saya dengar dan saksikan. Pendekatan spekulatif orang Siberut tampaknya lebih cocok dengan metode kerja Ekolog yang lebih suka menafsirkan data (dengan agak berlebihan) untuk membangun narasi tertentu terhadap perubahan ekologi.

Bagi orang Siberut sendiri, perubahan ekologi adalah sebuah keniscayaan. Saya telah menjelaskan di buku saya (yang sedang mencari penerbit) dan banyak artikel yang saya tulis tentang sikap orang Siberut terhadap perubahan ekologi. Orang Siberut bukanlah antitesis dari perubahan. Mereka terlibat didalamnya. Ekologi dan sosial di Siberut sangat dinamis. Orang Siberut telah terlibat dengan perubahan ekologi ini sepanjang waktu. Sebagai sebuah ilustrasi sederhana adalah jarak tempuh sungai dan jalan setapak. Di Siberut, arah sungai dan jalan setapak berubah sepanjang tahun. Bisa jadi karena luapan banjir rutin dan juga karena mereka menggunakan jalur lain. Cara mereka melihat hutan, misalnya juga senantiasa berubah. Kadang mereka menyebutnya angker dan keramat. Di waktu lain mereka menebanginya untuk dijadikan ladang tanaman komersial. Dengan kondisi ekologi yang keras, mereka mengalami perubahan cuaca dan musim sepanjang waktu. Diwaktu-waktu tertentu, muara sungai dan lepas pantai dilimpahi oleh ikan, dan beberapa bulan kemudian ikan susut dan langka. Perubahan-perubahan ini senantiasa terjadi, dan orang Siberut tidak terlalu mengkhawatirkannya.

Baiklah. Saya akan membelokkan diri sebentar untuk menjelaskan iklim dan musim versi orang sekolahan. Bagian ini barangkali agak kering dan membosankan. Bagi penganut setia klasifikasi Koppen, iklim di Siberut berjenis tropis basah. Iklim ini dicirikan oleh curah hujan yang tinggi tanpa ada musim kering sama sekali, lembab, cahaya matahari berlimpah, perubahan temperatur musiman yang rendah serta distribusi hujan yang berpola bimodal. Oleh karenaya Siberut hampir sepanjang tahun selalu basah. Barangkali ini menyebabkan orang Siberut tidak mengenal musim kemarau dan hujan, yang katanya akrab dengan penduduk Indonesia itu. Ini ada kaitannya dengan letak Siberut yang dilewati garis Katulistiwa. Posisi ini menyebabkan Siberut mendapatkan hujan sepanjang tahun dengan intensitas yang sangat tinggi. Selain itu kelembaban udara sangat tinggi yang berasal dari bias cahaya matahari yang berlimpah.

Tidak ada satu bulan pun yang mengalami hujan kurang dari 50 persen dari jumlah hari. Rata-rata curah hujan yang tercatat di Siberut menunjukkan angka lebih dari 3,250 mm/tahun di kawasan pantai. Di kawasan dekat hujan, angka ini bisa lebih tinggi hingga mencapai 3,500 mm/tahun. Pada puncak tertinggi hujan turun—lazimnya di bulan April dan Oktober–hujan mengguyur sepanjang malam dan hampir di semua hari. Curah hujan yang tinggi dalam jangka waktu kurang dari 4 jam akan menimbulkan banjir yang meluas namun juga akan segera susut dalam waktu yang singkat. Musim kering hanya berlangsung beberapa saat, terutama jatuh untuk awaln bulan Pebruari dan Juni.

Orang Mentawai sendiri tidak mengenal kategori iklim seperti yang dikenal oleh seorang klimatolog atai ekolog mengklasifikasikannya. Di Siberut pada dasarnya tidak dikenal musim hujan atau musim kemarau. Tentu saja mereka mengalami hari-hari di mana hujan lebih banyak atau bulan kering ketika hujan tidak turun dalam periode 2-3 minggu. Tetapi mereka tidak menamainya. Pandangan orang Mentawai terhadap musim terkait dengan kepercayaan kosmologisnya.

Bagi orang Siberut, pulau tempat kehidupan mereka pada mulanya adalah titik pusat dunia yang dikelilingi pulau-pulau lain. Pada suatu hari, dari arah samudra, tumbuh langit dari arah timur. Langit lalu membentuk kubah maha besar,yang disebut tanah langit. Ketika langit telah tercipta, munculah matahari dan bulan. Keduanya mengembara bergantian, menyusuri kubah dari arah timur ke barat. Tetapi di dasar kubah itu, hidup seekor buaya yang siap memakan matahari dan bulan. Di pinggir barat pulau, ada orang-orang merah. Mereka suka membuat bola-bola api dari keladi. Saat matahari dan bulan akan turun ke kubah langit dan buaya siap membuka moncongnya, orang-orang merah itu melemparkan bola api dari keladi ke dalam kerongkongan buaya. Matahari dan bulan akan bersembunyi di balik langit dan muncul kembali ketika keadaan sudah aman.

Di sisi utara dan selatan, hanya berupa angin. Angin ini pada saat tertentu mengamuk yang memunculkan aggau. Munculnya aggau ini seiring dengan munculnya kepiting raksasa dari laut untuk mencari makan. Munculnya kepiting ini menyebabkan pasang surut air laut.  Sedangkan selama musim teduh, angin ini berbelok ke arah tenggara yang bertiup sepoi-sepoi, disebut kayaman dan memunculkan rura.

Dalam cerita lain, matahari dan bulan yang sebelumnya adalah sahabat menjadi seteru. Keduanya hidup rukun bersama anak-anaknya. Bintang adalah anak-anak bulan. Matahari juga memiliki anak-anak yang sinarnya menghanguskan manusia. Untuk menolong manusia, bulan menipu matahari dengan pura-pura memakan anak-anaknya. Caranya adalah dengan mengunyah kulit kelapa muda yang serupa darah. Matahari terkecoh dan memakan anaknya. Pada saat malam tiba, muncul bintang dan barulah matahari tersadar kalau tertipu. Karena marah, matahari menebas bulan dengan parang sepotong demi sepotong. Itulah mengapa saat siang, kita tidak menjumpai bintang dan kalau malam bulan berbentuk sabit. Bulan yang marah membalasnya dan melemparinya. Hingga itulah wujud matahari tergerupis-gerupis tanpa garis bentuk. Dan sejak itu, matahari dan bulan tidak pernah lagi muncul seiring. Menjelang akhir periode tertentu, bulan jatuh sakit. Ia menjadi kurus lalu pergi ke ladang kunyit hingga mati disitu. Ulat-ulat bermunculan dari tubuhnya menjadi anak-anak ikan (simarou) yang melimpah ruah selama periode amukan angin dari arah tenggara reda.

Penduduk langit yang istimewa, yaitu bintang tujuh (pleiades) memberi tahu orang Mentawai tentang musim ini. Pada awalnya, mereka adalah delapan orang anak laki-laki bersaudara yang yatim piatu. Jumlah mereka yang besar menyebabkan kerabat mereka tidak mau merawatnya. Oleh keluarganya, mereka dimasukkan ke dalam guci dan dihanyutkan ke sungai. Seorang paman menolong mereka, tetapi akhirnya kewalahan memberi makan. Pada suatu waktu, paman itu membohongi mereka pada saat berada diatas pohon buah-buahan. Paman itu meneriaki mereka bahwa ada musuh disekitar mereka. Anak-anak itu tahu, itu adalah siasat paman untuk mengusir mereka. Ke delapan anak itu menjadi sedih. Mereka akhirnya membuat perahu lesung besar (kalabba’) lalu pergi ke arah langit melalui laut. Sebelum berangkat, mereka memberitahu pada paman mereka ciri-ciri berbagai musim.

Kosmologi tersebut menjadi panduan bagi orang Siberut untuk menentukan ciri-ciri musim dan mengklasifikasikannya. Orang Siberut menentukan dua musim. Dua musim tersebut adalah musim aggau dan musim rura. Beberapa orang menyebut musim di Mentawai adalah tiga, dengan memasukkan simarou juga sebagai penanda musim.

Pada saat angin selatan dan utara mengamuk, orang sebaiknya jangan turun melaut. Ini adalah musim badai atau aggau. Jika angin berasal dari selatan, berarti angin itu terasa lembab dan basah, membawa hujan yang deras. Sementara jika angin berasal dari utara, terasa kering dan panas. Gelombang laut mengalami puncaknya dari pertemuan dua angin ini. Orang tidak berani melaut. Kapal-kapal penyeberangan berhitung secara teliti—kalaupun mereka berlayar, biasanya jalan di siang hari yang terik. Pada saat pasang sedang naik, kepiting laut bermunculan ke pantai dan hutan bakau untuk meletakkan telur-telurnya. Mereka ini dianggap sebagai perwujudan kepiting raksasa yang menyebabkan pasang-surut air laut.

Musim aggau dalam kalender masehi, jatuh pada bulan-bulan Juni sampai Oktober. Musim inilah yang harus dihindari oleh para pengunjung atau warga Siberut yang hendak bepergian. Namun terkadang, musim badai bisa berlangsung lebih lama hingga Desember awal. Kadang-kadang musim aggau  muncul singkat antara Juli-Agustus. Ciri khas pada musim ini adalah munculnya kepiting dalam jumlah besar ke arah pantai. Binatang ini muncul saban dini hari menjelang fajar. Orang-orang (terutama ibu-ibu) dan muda-mudi berbondong-bondong menginap di pantai untuk menangkapnya dan menjadikannya sebagai sumber protein yang lezat.

Setelah musim aggau berakhir, angin selatan yang basah kembali pulang ke arahnya semula. Laut menjadi sedikit tenang tapi curah hujan menjadi sangat tinggi. Pada saat tertentu air pasang laut bertemu dengan air hujan di bukit-bukit yang menuju ke lembah dan bermuara di sungai-sungai. Sungai-sungai itu mengirim air bercampur lumpur. Jika air tawar dan asin banyak bercampur, pada saat itulah muncul ikan-ikan kecil berwarna keperakan dan kemerahan. Inilah yang disebut sebagai musim simarou. Nama ini merujuk pada nama-nama ikan kecil-kecil yang berenang diantara muara sungai dan pantai. Mungkin ikan itu adalah tetasan nener-nener dari telurnya yang diletakkan induknya menjelang musim badai di delta-delta sungai, terumbu karang atau sela-sela akar bakau.

Pada saat musim ini, ibu-ibu dengan membawa jaring beramai-ramai turun ke pantai, menangguk udang dan ikan kecil yang jumlahnya melimpah. Dengan topi daunnya yang khas, mereka membawa tabung bambu tempat ikan-ikan itu dan tangguk, bersama anak-anak perempuannya. Saya pernah menyaksikannya di Saibi, Siberut bagian tengah. Pantai dan muara sungai Saibi tiba-tiba berselang seling indah berwarna merah dan keperakan akibat warna anak-anak ikan yang bertaburan disepanjang badan air. Di muara Sungai Saibi, berjajar puluhan ibu-ibu dengan sampannya. Sebagian mereka berendam setinggi perut di bawah air laut. Sambil bersendau gurau dan menyanyi-nyanyi, mereka menangguk Simarou yang berenang hilir mudik ke arah hulu dan lautan. Ikan-ikan kecil yang ditangkap itu dimasukkan ke dalam bambu dan direbus dengan panggangan bara yang stabil. Atau dikala lain, bersama tepung terigu, ikan itu dilumatkan ke dalam adonan yang berbumbu dan digoreng. Rasanya gurih-lezat dan sangat bergizi.

Musim simarou muncul pada kuartal bulan terakhir. Musim ini ditandai dengan curah hujan yang tinggi dan laut yang relatif tenang. Badai tidak sering terjadi. Selama musim simarou, beberapa orang akan turun ke laut untuk berburu penyu atau pesut. Terkadang setelah muncul simarou, ikan-ikan tamban (sarden) memecah dilaut dan itu saatnya orang-orang Siberut menanggalkan tali sampannya untuk menjaring ikan. Jika badai masih terasa, orang-orang lebih suka meringkuk di dalam selimut, duduk-duduk di atas teras sambil minum teh manis.

Ketika terlihat dengan jernih dan jelas gugusan pleiades di sebelah barat, itu pertanda laut mulai tenang. Angin dari arah tenggara yang dinamakan kayaman bertiup sepoi-sepoi. Ini adalah musim teduh. Laut tenang, datar dan mudah dilayari. Hujan meluruh dengan kadar yang tidak terlalu deras dan membuat banjir. Inilah tandanya musim rura berawal. Selama musim ini, pohon buah-buahan di ladang yang mereka tanam mulai berbunga secara bersusulan. Hal ini diawali oleh munculnya bunga dari pohon abbangan (mangga), lalu bairabbit (rambutan) yang lantas diikuti oleh siamung (langsat), doriat (durian), dan diakhiri dengan peigu (nangka). Dipuncak musim buah, ladang-ladang dikunjungi oleh babi hutan, monyet atau hewan-hewan liar yang hendak mencicipi buah-buahan segar.

Dapatlah dikatakan, ini adalah musim yang membahagiakan. Semua orang berbondong-bondong ke ladang untuk pananduk (memanen). Laki-laki muda adalah tukang panjat dan kerabat perempuanlah yang mengumpulkan buah-buahan yang dijatuhkan. Hasil panenan ini dibagi rata kepada anggota keluarga dan juga tetangga. Kerabat yang jauh dan bersekolah mendapat kiriman dari kampung beberapa karung sebagai jatah pembagian (otcai). Sepanjang musim buah ini, olahan dari makanan pokok (sagu, beras, keladi ) kurang diminati. Orang sarapan, makan siang, makan malam dan mengudap dengan buah langsat, rambutan dan durian sepanjang hari. Sesekali, mereka membawa panah atau senapan angin ke ladang itu menjelang sepi untuk berburu babi hutan atau monyet yang ikut memanen buah-buahan. Kalau sedang beruntung, daging hewan liar itu dianggap sebagai hidangan paling lezat yang menandai puncak musim rura.

Musim ini berlangsung lebih panjang, sekitar Januari-Mei. Diselingi oleh hari kering yang sedikit panjang di pertengahan Januari dan puncak hujan deras di bulan April, musim rura ini berlangsung ramah bagi orang Siberut.